AhmadRizali.Com

31 May, 2009

Aquil van Cimelati

Posted by: Ahmad Rizali In: Budaya|Catatan

Interior hotel berbintang lima yang terletak di kompleks perumahan terbaik kawasan pejabat keuangan di Jakarta Selatan ini selalu membuatku tertegun dan kagum. Semua menunjukkan betapa hebatnya Indonesia di masa lalu, relief berbagai candi difoto, dilukis dan ditata. Bahkan semua ruangan rapat menggunakan nama berbagai kerajaan besar di Indonesia masa lalu, cocok dengan nama hotelnya. Aku memasuki ruang rapat sebuah organisasi anti korupsi bernama ruang singosari.

Kumasuki ruangan sambil berbincang dengan seorang mantan mentri yang sudah terlihat renta,namun masih sangat sehat. Beliau yang sangat dihormati karena kredibilitasnya itu menasehati kami pentingnya hidup sehat, dia sendiri belum berhenti rutin jalan cepat dan berpuasa.

Di dalam ruangan rapat berkursi 25 an itu sudah menunggu beberapa teman muda pak mantan mentri, ada penasehat hukum terkenal, konsultan SDM handal, akuntan dan eksekutif sebuah perusahaan multinasional, bahkan mantan petinggi penegak korupsi yang paling ditakuti. Beberapa teman muda aktivis gerakan anti korupsi juga tampak berdiri menyambut manusia terhormat itu.

Kami langsung menuju sebuah ruang yang disediakan untuk makan malam prasmanan. Apakah menu makannya gaya manusia barat ? Ternyata tidak. Nasi liwet solo lengkap dengan lauk terbaiknya, lontong sayur terbaik, plus camilan sambosa plus beragam gorengan lain, lezat nian. Minuman penutup es campur berbagai buah buahan. Meski prasmanan, apakah semua tamu dibiarkan mengambil penganan sendiri ? Tentu tidak, mereka dilayani oleh petugas dengan keramahan kelas satu.

Guyonan dan percakapan serius melengkapi makan malam itu dan teh panas kualitet nomer satu serta kopi yang beraroma harum juga menyelingi. Tetapi, jangan berharap diberi gula pasir yang kelam dan agak pahit itu, semua minuman disertai bungkusan gula sintetis anti penyakit kelebihan gula. Aku tidak doyan barang sintetis itu dan kubiarkan teh tanpa gula kusruput nikmat.

Air putih tentu tak ketinggalan. Awalnya aku heran, rapat kelompok manusia kredibel dan religius ini kok disertai sampanye dari perancis, sebuah botol sampanye persis di film TV yang bahenol dibawah dengan tampilan merek cantik Aquil tersaji di hadapan setiap kursi, disisinya tergolek anggun sebuah gelas anggur seperti cawan obat departemen kesejatan yang ada ularnya, bening seperti kristal.

Ternyata, “sampanye” itu kemasan air putih. Awalnya aku geram, air putih saja kok diimpor, bukankah Indonesia adalah negeri air kemasan terbesar di dunia. Ketika kuperhatikan dengan cermat, ternyata Aquil, merek air itu isinya dikeduk di Cimelati, lereng gunung salak bogor dan air ini, yang ditulis “memiliki kandungan mineral alam yang seimbang”, tentu dalam bahasa inggris, dikemas dalam jumlah sangat terbatas dan diedarkan terbatas pula di eropa, seperti mobil bermerek “Jaguar” begitulah.

Topik yang kami bincangkan dalam rapat itu tak suasananya. Karena bukan tempat merokok, disediakan pula beberapa mangkuk permen untuk iseng mengulum sesuatu. Sesekali pelayan menawarkan bantuan jika ada.

Kembali ke Aquil van cimelati, rasanya tidak istimewa, sama dengan air minum kemasan merek aqua, atau bahkan air ledeng diseduh dan didinginkan, yang berbeda adalah bajunya, cara menuang ke cawan dan cawannya serta tempat di mana air itu diteguk. Itulah kemewahan.

Nasi liwet dan lontong sayur yang dihidangkan di sana juga kemewahan dengan rasa tradisional, tetapi bisakah kita dapatkan kemewahan air cimelati yang dikemas terbatas itu ? Rasanya tidak, nampaknya air itu hanya tersedia ditempat khusus seperti hotel dan klub ekslusif ini. Jangan heran, tempat ini langganan petinggi bisnis dan pedagang minyak di nusantara, jadi, sungguh licin karpetnya.

Sekali lagi, kemewahan itu hanya bisa kudapatkan karena berteman dengan orang yang punya uang, kekuasaan dan selera seperti itu, bagiku sebagai seorang penggiat gerakan guru, meskipun bekerja ditempat yang cukup baik, tentu tak akan tega membayar hanya untuk aquil van cimelati dan nasi liwet bernuansa mewah, karena kami masih dalam kasta yang berfikir tentang perut dan sesekali self esteem yang dipaksa.

Namun, aku masih bisa merasakan nikmatnya memasuki lobi hotel mewah dengan sangat dihormati dan dibukakan pintu saat keluar dari mobil, meskipun cuma mobil kijang tua, mungkin postur dan batik murahan yang kupakai cukup menggambarkan, bahwa kastaku cukup tinggi untuk dihormati.

Meskipun, dahulu aku tak habis pikir, mengapa para sosialita itu begitu malas, lha mbuka pintu mobil saja tidak mau,apa susahnya. Sekarang, tanpa harus mengerti, kunikmati saja semua kemewahan itu, toh gratis, apalagi, perlukah kenikmatan yang halal ? Tidak kan ?

Sesekali bolehlah berlagak seperti juragan tajir yang rada jaim, meskipun pulangnya tetap ke perumnas Depok, tidur dikasur lapuk cuma bercelana kolor dan berkeringat.

Menikmati Aquil van cimelati membuatku seperti temannya para neolib, musuh baru para politikus yang berjargon pro wong cilik. Asyik, neolib hehehe…

Tabik
31/5/09
Nanang
email: nanang60@yahoo.com

http://ahmadrizali.com

No related posts.

No Responses to "Aquil van Cimelati"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...