<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Ketika anakku tidak naik kelas</title>
	<atom:link href="http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Feb 2012 12:47:51 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Ahmad Rizali</title>
		<link>http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/#comment-86</link>
		<dc:creator>Ahmad Rizali</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 06:01:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadrizali.com/?p=351#comment-86</guid>
		<description>Ada perkembangan menarik,.. karena sudah tidak naik kelas dan kami tidak marah, meski sedikit mengomel (lebih tepat memberi nasehat), anakku sudah jarang membolos, padahal tidak diantar seperti sebelumnya dan walikelasnya tetap yg lama dan ketika kutemui hanya kusampaikan &quot;titip anak saya dan perlakukan biasa saja, termasuk jangan pula mempermalukan dia&quot;. Ketika kutanya &quot;Kok sudah tidak pernah membolos...&quot;, dengan enteng dia menjawab &quot;Kan sudah tidak naik kelas,.... &quot;. Buset dah hehehe.

Sekarang dia dijemput saat berangkat sekolah oleh teman sekelasnya dan ketika kuledekin &quot;Enak lu, sekarang antar jemput gratis,...&quot; sambil nyengir dia menjawab &quot;itu anak buah...&quot;, gawatlah, mentang2 senioren, teman sekelas yg baru naik dianggap anak buah.

Jum&#039;at pekan lalu, dia dibon teman2nya dari Jakarta untuk menjadi gitaris pengganti, manggung di Kuningan-Cirebon dan sms ibunya dapat honor (sdh termasuk transpor) cepek jigo rebu hehehe.... jadi inget pengalaman pribadi, seumur dia aku ikut genk &quot;terlarang&quot; STM ku yg hobinya naik gunung untuk ikut napak tilas &quot;Jendral Soedirman&quot; dari yogya ke Wonogiri melalui daerah kering Gn Seribu. One way Ticket menyebabkan pulang ngamen di Kereta yg mangkal di stasiun Tugu.

Azky, terimakasih dukungannya, aku juga berharap seperti itulah, yg pasti aku senang, semoga jalanan betul betul menjadi &quot;guru&quot; terbaik untuknya, selain sekolah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada perkembangan menarik,.. karena sudah tidak naik kelas dan kami tidak marah, meski sedikit mengomel (lebih tepat memberi nasehat), anakku sudah jarang membolos, padahal tidak diantar seperti sebelumnya dan walikelasnya tetap yg lama dan ketika kutemui hanya kusampaikan &#8220;titip anak saya dan perlakukan biasa saja, termasuk jangan pula mempermalukan dia&#8221;. Ketika kutanya &#8220;Kok sudah tidak pernah membolos&#8230;&#8221;, dengan enteng dia menjawab &#8220;Kan sudah tidak naik kelas,&#8230;. &#8220;. Buset dah hehehe.</p>
<p>Sekarang dia dijemput saat berangkat sekolah oleh teman sekelasnya dan ketika kuledekin &#8220;Enak lu, sekarang antar jemput gratis,&#8230;&#8221; sambil nyengir dia menjawab &#8220;itu anak buah&#8230;&#8221;, gawatlah, mentang2 senioren, teman sekelas yg baru naik dianggap anak buah.</p>
<p>Jum&#8217;at pekan lalu, dia dibon teman2nya dari Jakarta untuk menjadi gitaris pengganti, manggung di Kuningan-Cirebon dan sms ibunya dapat honor (sdh termasuk transpor) cepek jigo rebu hehehe&#8230;. jadi inget pengalaman pribadi, seumur dia aku ikut genk &#8220;terlarang&#8221; STM ku yg hobinya naik gunung untuk ikut napak tilas &#8220;Jendral Soedirman&#8221; dari yogya ke Wonogiri melalui daerah kering Gn Seribu. One way Ticket menyebabkan pulang ngamen di Kereta yg mangkal di stasiun Tugu.</p>
<p>Azky, terimakasih dukungannya, aku juga berharap seperti itulah, yg pasti aku senang, semoga jalanan betul betul menjadi &#8220;guru&#8221; terbaik untuknya, selain sekolah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Azky</title>
		<link>http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/#comment-84</link>
		<dc:creator>Azky</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 00:24:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadrizali.com/?p=351#comment-84</guid>
		<description>Thanks Mas Nanang, postingan yang menarik dan sangat berguna untuk banyak pihak terutama orang tua. Salut buat Mas Nanang karena bisa menerima kenyataan yang  mungkin terasa pahit sekarang. Semoga kegagalan di masa sekarang akan mewujudkan mutiara di masa yang akan datang.

Barusan saya dapat cerita dari sekolahan di pedalaman papua. 3 orang guru dengan 300 siswa. Kebetulan salah satu guru itu adalah mantan murid teman saya yang mengajar di Papua juga. SI mantan murid ini dulunya adalah anak pandai sehingga ketika SMA dia mendapat beasiswa di SMA di Australia. Sayangnya si murid ini hanyut dalam kehidupan malam sehingga dikeluarkan dari sekolah. Tapi ternyata kegagalan itu justru memberinya semangat untuk membangun desanya. Dalam jangka 1 tahun dia bisa menumbuhkan minat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya, terbukti dengan 300 anak yang masuk sekolah dari 1 tahun sebelumnya yang hanya 15 anak.

Last but not least....pengalaman berharga kadang harus dibayar dengan mahal. Sukses buat si Sulung yaa...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thanks Mas Nanang, postingan yang menarik dan sangat berguna untuk banyak pihak terutama orang tua. Salut buat Mas Nanang karena bisa menerima kenyataan yang  mungkin terasa pahit sekarang. Semoga kegagalan di masa sekarang akan mewujudkan mutiara di masa yang akan datang.</p>
<p>Barusan saya dapat cerita dari sekolahan di pedalaman papua. 3 orang guru dengan 300 siswa. Kebetulan salah satu guru itu adalah mantan murid teman saya yang mengajar di Papua juga. SI mantan murid ini dulunya adalah anak pandai sehingga ketika SMA dia mendapat beasiswa di SMA di Australia. Sayangnya si murid ini hanyut dalam kehidupan malam sehingga dikeluarkan dari sekolah. Tapi ternyata kegagalan itu justru memberinya semangat untuk membangun desanya. Dalam jangka 1 tahun dia bisa menumbuhkan minat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya, terbukti dengan 300 anak yang masuk sekolah dari 1 tahun sebelumnya yang hanya 15 anak.</p>
<p>Last but not least&#8230;.pengalaman berharga kadang harus dibayar dengan mahal. Sukses buat si Sulung yaa&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: M Faizi</title>
		<link>http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/#comment-85</link>
		<dc:creator>M Faizi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 23:15:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadrizali.com/?p=351#comment-85</guid>
		<description>Ya, saya menyukai artikel ini juga. bagus. ini adalah kenyataaan (sudah terjadi), sementara yang saya baca di buku-buku tentang &quot;harapan&quot; dan &quot;cara mendidik yang baik&quot; itu cenderung masih bersifat harapan (belum terjadi).
Banyaknya, sikap demoktratis, terkadang membuat anak yang mengatur orang tua. Sekali lagi: &quot;anak mengatur orang tua&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, saya menyukai artikel ini juga. bagus. ini adalah kenyataaan (sudah terjadi), sementara yang saya baca di buku-buku tentang &#8220;harapan&#8221; dan &#8220;cara mendidik yang baik&#8221; itu cenderung masih bersifat harapan (belum terjadi).<br />
Banyaknya, sikap demoktratis, terkadang membuat anak yang mengatur orang tua. Sekali lagi: &#8220;anak mengatur orang tua&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ahmad Rizali</title>
		<link>http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/#comment-83</link>
		<dc:creator>Ahmad Rizali</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 01:43:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadrizali.com/?p=351#comment-83</guid>
		<description>Bu Yusti,
terimakasih komentarnya.

Terkadang saya agak &quot;kejam&quot; dengan anak dan sengaja membiarkan kondisi itu mereka alami, karena bukankah hal itu nyata ? Apakah kondisi nyata itu akan berpengaruh pada kejiwaan anak dan masa depan mereka, semoga pengaruh itu positif dan masa depan mereka cerah. Saya sependapat dengan beberapa orang bahwa, masa depan yg dihadapi oleh anak kita, jauh berbeda dengan yg saya/kita hadapi, jadi biarlah dia &quot;bertempur&quot; dengan kondisi nyata saat ini untuk masa depannya.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Yusti,<br />
terimakasih komentarnya.</p>
<p>Terkadang saya agak &#8220;kejam&#8221; dengan anak dan sengaja membiarkan kondisi itu mereka alami, karena bukankah hal itu nyata ? Apakah kondisi nyata itu akan berpengaruh pada kejiwaan anak dan masa depan mereka, semoga pengaruh itu positif dan masa depan mereka cerah. Saya sependapat dengan beberapa orang bahwa, masa depan yg dihadapi oleh anak kita, jauh berbeda dengan yg saya/kita hadapi, jadi biarlah dia &#8220;bertempur&#8221; dengan kondisi nyata saat ini untuk masa depannya.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Yusty</title>
		<link>http://ahmadrizali.com/2009/06/25/ketika-anakku-tidak-naik-kelas/#comment-82</link>
		<dc:creator>Yusty</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 09:59:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ahmadrizali.com/?p=351#comment-82</guid>
		<description>Pak Ahmad Rizali,

Saya tersentuh dengan artikel Bapak. Apakah sebagai orang tua kita masih bisa &quot;menyenang-nyenangkan&quot; hati
kalau cap/ vonis &quot;penyakit menular?&quot; itu nantinya akan menghantui anak di siang bolong? Saya pernah membaca salah satu blog juga (kebetulan blog seorang guru), bahwa anak yang &quot;pintar&quot; kalau di sekolah cuek, kurang hai hai dengan bapak ibu guru, vonisnya adalah &quot;sikap kurang baik&quot;? (padahal anak tersebut temannya banyak) dan sikap kurang menyenangkan itu menjadi salah satu tiket tidak naik kelas. Mau kemanakah anak kita?

Salam,
Y</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Ahmad Rizali,</p>
<p>Saya tersentuh dengan artikel Bapak. Apakah sebagai orang tua kita masih bisa &#8220;menyenang-nyenangkan&#8221; hati<br />
kalau cap/ vonis &#8220;penyakit menular?&#8221; itu nantinya akan menghantui anak di siang bolong? Saya pernah membaca salah satu blog juga (kebetulan blog seorang guru), bahwa anak yang &#8220;pintar&#8221; kalau di sekolah cuek, kurang hai hai dengan bapak ibu guru, vonisnya adalah &#8220;sikap kurang baik&#8221;? (padahal anak tersebut temannya banyak) dan sikap kurang menyenangkan itu menjadi salah satu tiket tidak naik kelas. Mau kemanakah anak kita?</p>
<p>Salam,<br />
Y</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

