Tuhan memberi anugerah dengan tidak pernah menginap di rumah sakit hingga usiaku mendekati setengah abad ini, segala bentuk penyakit yang diturunkanNya cepat sembuh hanya dengan beberapa tablet paracetamol dan do’a, dalam beberapa hari.
Ketika menginap di rumah mertua, tekanan darahku diperiksa dan terhitung tinggi, 140/100. Aku dinasehati kakak ipar yg dokter kandungan itu agar memeriksa jantung, karena ada keluhan lambung sering nyeri ketika telat dan kebanyakan makan dan hilang saat bersendawa. “Di atas usia 40, seringkali keluhan lambung nyeri terkait dgn masalah jantung” Ujar iparku. Meski dia tidak menakutiku, tetapi saat itu kecemasan muncul.
Saat diperiksa dokter jantung yang disewa perusahaan dengan alat treadmill dan tensi meter,aku dinyatakan sangat tidak bugar dan kemungkinan tekanan darah tinggi serta gangguan jantung. Dokter menyarankan pemeriksaan jantung dengan CT Scan dan diberinya aku resep penurun tensi bermerek tensivask-5. Tablet kecil mahal itu harus kumakan separo jika tensiku di diastolik melebihi 90 dan sistolik melebihi 140. Tensi normal usia dewasa sebelum 50 Tahun adalah 80/120. Ketika menua diastolik meningkat dan sesudah 55 Tahun turun kembali.
Sesudah janji dengan Rumah Sakit dimana aku dirujuk untuk periksa jantung, aku menunggu dipanggil petugas CT Scan Corronary di ruang tunggu yang nyaman dan dingin serta ber TV besar. Tamu kedua adalah pensiunan Pertamina yang juga mantan staf ahli mentri KLH jaman Emil Salim yang sedang mengantar istrinya.
Ruang tunggu itu nyaman, mungkin karena manusia yang minta diperiksa “jeroan” nya, tentu manusia berduit atau bekerja di kantor yang berduit, sehingga ruang tunggunya begitu nyaman. Apalagi CT Scan itu menurut petugasnya, sehari hanya boleh menScan 3 orang dan persiapannya juga ribet dan rumit, bayangkan mahalnya.
Ternyata, pasien hanya bisa diScan jika denyut nadinya di bawah 70 denyut/menit, karena saat itu denyutku 73 dan istri pensiunan pejabat tinggi itu melebihi 80, kami diminta meminum pil kecil penurun denyut nadi dan menunggu reaksinya selama 30 menit. Berkah teknologi, 30 menit kemudian denyut nadiku menurun menjadi 66 an dan layak diScan. Ibu tadi, meski sudah masuk duluan, ternyata tidak kunjung turun denyut nadinya, akhirnya aku didahulukan memasuki ruang CT Scan yang dingin, sepi dan hanya terdengar deru mesin.
Aku diminta berganti baju dengan kimono dan celana komprang katun warna biru telur asin, pakaian yang tersisa hanya celana dalam dan segera dibimbing memasuki ruang?CT Scan. Greng…!! aku tercekat. Seumur hidup tidak pernah berurusan dengan RS, bahkan dengan puskesmaspun tidak, saat ini seperti “manusia percobaan” yang sedang dibimbing menaiki alat yang mengerikan itu.
Aku diminta tiduran di semacam dipam besi yg bisa digeser geser dan naik turun dengan otomatis. Lengan kiriku diangkat dan dipasangi detektor tensi darah dan detak jantung di jari dan pangkal lengan, beberapa bagian di dada juga ditempeli detektor yang sudah diolesi sejenis jeli. Terdengar bunyi “tit..” diantara deru lembut ruang bersuhu 18 der selsius itu, bunyi itu berasal dari sebuah monitor seperti TV di sisi kiriku dan kulihat ada grafik bergerak seperti pergerakan harga saham, aku tegang dan cemas betul.
bersambung ke bag-2
email: nanang60@yahoo.com
No related posts.