Tak lama, lengan kananku diangkat pula dan perawat menusukan jarum ke pangkal lengan di dekat siku bagian dalam sambil memberi instruksi dan peringatan kecil.
CT Scan sebetulnya seperti ronsen dan bekerja dengan radiasi, namun konon tidak berpengaruh pada tubuh pasien dan akan luruh dalam tempo 3 tahun. CT yang merupakan akronim Computed Tomography itu, akan memindai jantung saya dan menggabungkan menjadi bentuk 3 dimensi, berkah teknologi !! Dokter ahli akan melihat jelas, apakah jantung dan semua onderdil yang terkait dengannya terganggu.
Ketika aba aba siap disampaikan, operator CT Scan yang tak kulihat sosoknya, menaikan dipan tempatku tiduran dan menggerakkan maju ke arah kaki melalui sebuah lubang bulat, mungkin mengetesnya. Kecemasanku memuncak dan aku sibuk menenangkan diri sambil komat kamit membaca ayat kursiy dan sholawat atas kanjeng nabi. Ayahku, meski penganut Muhammadiyah selalu menganjurkan wirid sholawat jika mengharapkan keselamatan dan tentu aku ingin selamat dari CT Scan ini, betul betul kampungan diriku ini.
Tiba tiba dari lengan yang disuntik tadi terasa ada kehangatan yang mengalir dan menjalar keseluruh tubuh dan berakhir ke buah zakarku, persis hawa yang dirasakan thio boe kie ketika menerima lweekang dari kim mo sai ong. Lantas tempat tidur itu dimaju mundurkan, sesekali ada instruksi mengambil nafas ditahan. Proses pemindaian ini bekerja dengan memaju mundurkan tubuhku dan ambil nafas, tahan dan melepasnya. Tidak sampai 15 menit yang kurasa tahunan itu, scanning usai.
Beberap hari saya kemrungsung menunggu hasil CT scan jantung itu bak tahanan yang menunggu waktu hukuman mati. Dalam masa menunggu ketidakpastian itu, sambil merasakan tak enak makan,kubaca via internet semua hal yang terkait dengan tekanan darah tinggi dan per-jantungan, untuk menebak betulkah gaya hidupku dan semua yang kulakukan memberi resiko sehingga aku tervonis “mati”, meski 95% menyatakan tidak, kecuali kesenanganku atas makanan agak asin, maklum orang surabaya dan malang.
Foto Scan dan surat terbuka dari Radiolog kepada dokter jantungku akhirnya kuterima dan karena tidak tertutup aku intip sembari menerima tamu. “Alhamdulillah….” ujarku dengan pelan tetapi dalam sembari mencium surat itu, jantungku sehat !! Semua kecemasan langsung hilang. Hukum sebab akibat berlaku, gaya hidup sehat dengan genetik sehat, tentu menghasilkan kesehatan organ pula.
Aku pulang bersepeda ke ragunan dari monas dengan sangat ringan, di jalan raya hati menjadi sangat riang dan sabar, tak ada umpatan meski laju sepedaku di potong bajaj dan metromini dengan ugal ugalan, bahkan ketika menumpang mobil yang dikendarai pak sumadi, semua lagu yang keluar dari radio, nyaman didendangkan.
Depok
24/7/09
email: nanang60@yahoo.com
Related posts:
- Mencicipi CT Scan (bag-1) Tuhan memberi anugerah dengan tidak pernah menginap di rumah sakit...