14 Aug, 2009
Pohon: DKI sibuk menanam, Depok sibuk menebangi
Pemanasan global yg begitu menakutkan dunia yang disikapi dengan menambah sebanyak mungkin penyerap CO2, yaitu pepohonan dilakukan banyak pemimpin dan warga dunia, tidak terkecuali di DKI. Bu Walikota Jakpus begitu terkesan dengan tanaman sayuran bahkan padi yg tumbuh di halaman sempit rumah temannya dan bergegas ingin menjadikan halaman sekolah dan rumah tangga di daerah kekuasaannya ikut menghijau.
DKI juga mencanangkan pembuatan sejuta lubang biopori dilahan mereka, oleh sebab itu, dimintalah berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta untuk menyumbang alat pelubang/bor biopori itu. Konon, lubang penyelamat air tanah itu sudah mencapai 400.000 dan akan dipantau terus.
Selain urusan Lingkungan Hidup, DKI juga mencatat angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) peringkat top 10 pada catatan UNDP di Tahun 2004, bahkan Jaksel dan Jakpus berada di Top 5 bersama dengan kota Yogya.
Saya tinggal dan ber KTP Depok. Kota ini pesat sekali kemajuan fisik dan pertambahan penduduknya sejak terlepas dari Kabupaten Bogor, bahkan di Tahun 2004 mencatat IPM diperingkat 11 dari 340 lebih kabupaten/kota pesaingnya, kala itu Depok dipimpin Badrul Kamal, walikota dari Golkar. Badrul dalam pilsung keok oleh Nurmahmudi dari PKS dan rakyat depok berharap nasibnya lebih baik.
Namun apa lacur, menurutku Depok tidak menjadi semakin baik. Infrastruktur jalan dan transportasi semakin semrawut. Apalagi dalam menyikapi lingkungan hidup, brutal sekali. Hanya karena ketakutan pohon roboh, dia ditebang, padahal cukup dipangkas, belum lagi ketika melebarkan jalan. Lihat saja, sebentar lagi, Margonda akan menjadi jalan yang gersang tanpa pohon, melengkapi jalan utama Depok lainnya yang sudah kepalang gersang.
Membuat pesawat ulang alik mulai dari ide hingga jadi, mungkin tak sampai butuh waktu sampai 50 Tahun, tetapi membesarkan beringin hingga rindang dengan diameter batang hingga 6-7 pelukan manusia dewasa seperti di depan kantor BRI Otista Jakarta Timur, tentu butuh waktu lebih 50 Tahun dan hingga kini belum ada teknologi yg bisa menumbuhkan beringin sebesar itu lebih cepat lagi, artinya pohon itu langka.
Melebarkan Margonda sepanjang 10 Km itu, jika dana ada adalah perkara sepele, 6 bulan kelar. Tetapi, mampukah Pemkota membuat jalan itu rindang dengan pepohonan dalam 6 bulan dan terus rindang, meski dana ada ? Mustahil kan.
Negeri ini butuh pemimpin yang punya kesadaran ekologis yang logis dan mondial, jika di daerah depok yang berpohon peneduh rindang sibuk ditebanginya tanpa rasa kasian demi pelebaran jalan, padahal banyak yg tidak perlu ditebang, maka tunggu saja kemarahan alam, Depok akan semakin gersang dan sering banjir. Untung masih ada hutan UI. Tetapi geli rasanya melihat jalan Margonda yang gundul dan membandingkan dengan UI yang gondrong lebat.
Pohon sebagai salah satu penangkal banjir dan global warming selain banyak kegunaan lain, sibuk ditanam oleh pemprov DKI, sementara di Depok, dimana berlokasi UI dan beberapa Universitas, tempat ratusan cendekiawan bekerja, bahkan walikotanya adalah doktor alumni LN, sibuk menebangi pohon dikotanya, demi pembangunan jalan, ini keblinger atau bodoh ?
Tabik
13/8/09
Nanang
email: nanang60@yahoo.com
http://ahmadrizali.com
Related posts:
- Bulan ini tuhan “sibuk” Belum usai gegap gempita permintaan do’a restu caleg kepada calon...