AhmadRizali.Com

10 Jan, 2010

Senja di KA Gaya Baru Malam Selatan

Posted by: Ahmad Rizali In: Budaya|Catatan|Keluarga|Pernak-pernik

gmbsSetelah hampir 30 Tahun, siang itu kakiku kembali menaiki Kereta Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) Jakarta Kota-Surabaya. Kami ber 5, 2 anak lelakiku dan 1 anak perempuanku semuanya berusia remaja, serta ibunya, menunggu beberapa jam di stasiun Beos Kota, sesudah berjejal dengan penumpang lain di KRL ekonomi AC dari Pondok Cina (Pocin) Depok, untunglah jarak Pocin-Beos ditempuh tak lebih 60 menit. Kami menggendong ransel masing masing yg berisi baju dan perlengkapan pribadi.

Stasiun Beos sudah terlihat lebih rapi dan bersih, namun mengapa kebersihan selalu pula berarti membersihkan pedagang makanan lokal. Sebelum dirapikan, penumpang dan pengantar masih bisa menikmati Soto, Nasi rames hingga Rawon di restoran di stasiun ini, ketika sudah rapi, yang tersedia di sini hanya makanan cepat saji Restoran merek impor A&W yg semua bermenu ayam dan potongan tuna itu. Rapi yg berarti seragam, seperti pakaian seragam sekolah berlaku disini. Dengan terpaksa kuhabiskan menu ayam bumbu merica hitam dengan nasi lembek di resto itu, seharga 16.000.

Meski ditengah musim libur, 29 Desember 2009, namun penggemar GBMS ini masih membludak. Mungkin karena karcis ke Purwokerto tujuan kami “cuma” Rp. 26.000 per kepala, sedangkan hingga Surabaya dipatok Rp 36.000, harga karcis yg sulit diperoleh di kendaraan umum lain seperti Bus yg paling buruk sekalipun. Apalagi KA ini nampaknya cukup terpelihara, dengan kursi berlapis jok empuk, tdk seperti jaman 30 thn lalu yg berlapis rotan. Ketika untaian gerbong datang, meski belum berhenti kami berebut naik. Itulah code of conduct penumpang GBM yang ingin booking tempat duduk, karena petugas malas cantumkan nomer kursi di karcis murah itu.

Luarbiasa, keberangkatan GBMS hanya terlambat 15 menit dari jadwal tertera di pengumuman resmi 12.00. Tempat duduk berjajar pada kursi untuk 3 orang dan 2 orang berhadap2an, anak2ku yg lincah berhasil memburu 4 kursi berhadapan, disana meriunglah mereka ber empat dengan ibunya, aku terpisah di kursi tetangga shaf yg sama. Ketiga putra/putriku nampak riang menikmati sesuatu perjalanan yg belum pernah mereka alami, perjuangan berebut memperoleh kursi dianggap sebuah permainan yg dijalani dengan ketawa ketiwi.

KA tanpa AC bahkan kipas angin itu bersih dan berhenti disetiap stasiun, pasar Senin, Jatinegara dan Bekasi dan penuh sudah semua gerbong itu, termsuk penumpang berdiri di koridor di antara kursi. Sekalipun demikian, pedagang yg sejak di Beos sudah pula berjejalan dengan penumpang masih mampu manuver meliuk liuk diantara penumpang, melintasi koridor. Bahu dan kepalaku entah berapa kali tersenggol jualan dan badan mereka dan sekali lagi “tidak boleh marah”, itulah code of conduct lain penumpang GBM, karena penumpang, pedagang asongan, pengemis dan petugas restorasi dan kondektur adalah warga yang bersaudara dalam kegembiraan perjalanan.

Kereta melaju dari Bekasi tanpa henti menuju arah timur dan akan berhenti di Karawang, sesekali hujan lebat dan penumpang sibuk menutup jendela dan kembali sibuk membukanya ketika reda, untuk mengusir pengapnya udara. Aku pikir pedagang akan susut, ternyata tebakanku salah, karena mereka adalah pelengkap sistim GBM itu, penyedia kebutuhan penumpang. Apapun yang mereka perlukan. Jika kepanasan, ada kipas bambu bergagang yg biasa untuk mengipasi sate, jika si upik rewel, tersedia mainan apapun, mulai sekedar gambar tempel hingga boneka. Jika bete, ada banci dan pengamen yang siap bernyanyi untuk anda, pembaca puisipun (nyanyi tanpa musik) tersedia.

Makanan, kebutuhan utama selama perjalanan panjang itu, paling banyak tersedia di GBM. Meski ada restorasi, yg sudah mulai jemput bola, pedagang sangat beragam. Tersedia pecel dan berbagai nasi rames dan nasi berlauk sate dibungkus kertas berplastik transparan hingga styrofoam, silahkan pilih. Penjual minumanlah yang terbanyak. Mulai dari minuman dingin, teh botol, airputih kemasan hingga yang disebut pengganti ion tubuh dijual. Ada pula minuman panas cepat saji.

Jika minuman dingin ditenteng dengan ember besar berisi air es, dengan isi @250 ml hingga 20 botol, minuman panas ini di gantung sachet2nya disekeliling termos besar yang hany perlu dipencet jika airnya ingin digunakan, mereka memanggul dagangan itu dengan muka sedih dan gembira. Sedih jika sudah berputar beberapa kali taksatupun pembeli. Gembira, ketika ada pelanggan memanggil, seperti sore itu, kami mengudap PopMi yang juga mereka jual seharga 4.000 per gelas besar, dan tetanggaku membeli energen dan kopi susu.

Sungguh menggelikan, kurasa pedagang di GBM ini lebih banyak daripada penumpangnya, tak hentinya bersliweran dari stasiun Kota hingga Purwokerto selama 7 jam dan polanyapun berubah, kecuali pedagang minuman panas itu yang kuhitung paling banyak jumlahnya. Dodol yg hingga cikampek belum ada, sesudah melewati cirebon, mulai muncul, demikian pula penganan oleh oleh seperti oncom goreng hingga gethuk goreng.

Aku curiga, jumlah pedagang di GBM berkorelasi positif dengan baik buruknya ekonomi kita, jika membaik, maka mereka berkurang dan sebaliknya. Karena terlihat sekali persaingan diantara mereka sangat ketat, meski belum sampai saling banting harga dan masih ada yg mau meminjamkan barang dagangannya ketika temannya membutuhkan saat itu pula.

Di GBM ini pula aku menyesal, karena tidak membawa recehan karena begitu banyak pahala yang terlewat dari depanku dan diambil dengan ihlas oleh ibu ibu penumpang tetap GBM disampingku, dia dikenal oleh petugas KA, pahala itu adalah para pengemis dan pengasong lagu seperti lelaki berpakaian perempuan yang mengomel “gusti allah, mosok cuma dapat segini dalam satu gerbong…” sambil menunjukkan beberapa recehan ditangannya kepada temannya pedagang yg hanya senyum sekilas.

Ketika senja di KA GBM itu pula aku tersindir tajam oleh si “banci” karena tidak memberinya recehan dengan ucapan yang mungkin sudah setiap kali dia sampaikan “keren keren kok tidak memberi, artinya masih miskin dong, kalo sudah kaya nanti beri saya ya…” Aku tersenyum masam sambil membantin “padahal pakaian yg kupakai adalah T-shirt yang terburuk dari yang kami miliki, bagaimana kesan mereka jika kami berpakain yang terbaik…”.

KA GBM memang masih kereta “proletar” yang saling menghidupi sesamanya dan jika pejabat negara ingin mengerti isi hati rakyatnya, sesekali kendarai GBM sambil mendengar dangdut, dan saat sudah mengerti isi hati rakyatnya, pastilah Toyota Crown Salon yg digunjingkan itu terasa panas ketika dikendarai.

Kami turun di Stasiun Purwokerto, pada jam 19.30 di jemput mobil operasional Baturaden Adventure Forest (BAF), sebuah Nissan Terano besar dan segera meluncur pada petang yang basah itu menuju lereng Gn Slamet, tempat kami berkemah berlibur akhir Tahun 2009.

email: nanang60@yahoo.com

http://ahmadrizali.com

Sumber gambar: Flickr.com

Related posts:

  1. GAYA HIDUP DAN PEMANASAN GLOBAL Akhirnya harga bensin naik juga menjadi Rp. 6.000 se liter...

9 Responses to "Senja di KA Gaya Baru Malam Selatan"

1 | Satria

January 12th, 2010 at 6:04 am

Avatar

Still enjoying the ‘proletar’ way, Cak? :-) Saya tak lagi bisa menikmatinya seperti dulu.

2 | mudarwan

January 12th, 2010 at 11:58 am

Avatar

“KA GBM memang masih kereta “proletar” yang saling menghidupi sesamanya dan jika pejabat negara ingin mengerti isi hati rakyatnya, sesekali kendarai GBM sambil mendengar dangdut, dan saat sudah mengerti isi hati rakyatnya, pastilah Toyota Crown Salon yg digunjingkan itu terasa panas ketika dikendarai.”

Setuju sekali dengan pernyataan bapak diatas. Semoga mereka yg mendapat amanah sebagai pejabat – membaca tulisan bapak ini.

3 | Raldi A. Koestoer

January 12th, 2010 at 3:38 pm

Avatar

He..he.. he..

Rizali hebat…

Sudah putihkah rambut dikepala ? Pasti sdh rada2 botak ya…

Mohon ijin utk mem-plagiat tulisan ini satu saat… TQ.-

4 | Ahmad Rizali

January 13th, 2010 at 1:13 pm

Avatar

Terimakasih atensinya pak Mudarwan,… harapan saya saat menulis sama, tetapi pastilah tidak terbaca oleh mereka pak, karena ngapain baca baca yang beginian, jika masih banyak hal yg menurut mereka “lebih penting” hehehe….

5 | gus dul

January 14th, 2010 at 12:10 pm

Avatar

Nang, cerita perjalanan ente & keluarga asyik banget. sebuah cerita yg pernah (baca sering) gw dapatkan kalo bepergian sendirian kala muda dulu & sesekali backpacker’s ria di usia kepala empat ini. Sebuah cerita yg belum gw wujudkan dg anak bini kala mau ajak jalan2 ke luar jabodetabek. Pengalaman empiris mereka soal kehidupan nyata kebanyakan masyarakat kita hanya mereka dapatkan kalo gw ajak naik kereta ekonomi KRL atau naik angkot ke tempat2 wisata. Bravo, kapan2 bagi-bagi cerita yg lain. atau ente mau ajak ane & keluarga mengikuti perjalanan ente?

6 | Ahmad Rizali

March 11th, 2010 at 10:08 am

Avatar

hehehehe..:), gua sedang merencanakan kemping bareng yg agak jauh, atau piknik dg backpaking bareng keluar jawa, tetapi masih Indonesia… kita beruntung punya kesempatan mengenal begitu banyak kekayaan suku dan budaya indonesia, tetapi anak kita belum tentu Gus,… nah, kagak bisa disalahin kalo mereka lebih kenal yg non indonesia daripada kita :)

7 | Ahmad Rizali

March 11th, 2010 at 10:23 am

Avatar

Suheng Profesor Koestoer,… thx komentarnya :) , ane membotak, meski tidak sebotak banyak teman2 seusia apalagi dibanding antum yg baby face terus :) . Ane juga masih jarang uban di kepala (kecuali di kumsi dan jenggot), karena ngikuti kebiasaan bokap yg masih idup (92) yg diminyaki urang aring setiap hari mau berangkat cari nafkah pagi hari….

8 | eddie

May 19th, 2010 at 1:57 pm

Avatar

saya belum pernah naik gayabaru malam, setelah membaca kisah saudara, saya jadi tertarik untuk naik kereta ini, tapi kata seorang rekan keretanya kotor dan banyak binatang, maaf seperti kecoa dkk. apakah benar begitu??

9 | Ahmad Rizali

May 19th, 2010 at 2:10 pm

Avatar

Mas Eddie (boleh saya panggil mas… ?)

karena kereta murah, tentulah tidak bisa dibandingkan dengan kereta eksekutif yg argo2an itu, apalagi dengan yg super eksekutif seperti taksaka. Tetapi jika dikatakan kotor, tidak juga untuk ukuran sebuah kereta ekonomi, bahkan menurut saya jauh lebih bersih daripada KRL ekonomi (semoga anda pernah naik KRL ini, sehingga pembandingan saya dpt anda rasakan). Ttg kecoa, ada jugalah, tetapi tentu tidak berterbangan, mungkin hanya ada satu-dua dan ngumpet disela-sela tempat duduk orang lain atau di WC.

Saya senang jika bpk bisa menikmati Kereta ini, apalagi jika belum pernah, wow… eksotik mas.

Salam

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...