06 May, 2010
KETIKA ANAKKU TIDAK NAIK KELAS (3)
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Depok|Hak dan Kewajiban|Keluarga|Motivator|Pendidikan|Sekolah|Ujian Nasional
Kemarin persanaanku sama seperti 31 Tahun yang lalu, ketika membaca nomer ujianku tercantum dalam daftar nama ribuan peserta tes ujian masuk perguruan tinggi proyek perintis-I. Bayangkan, anak kampung lulusan STM, katrok diterima menjadi mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi yg sekarang (menurut THES) terbaik di Indonesia. Masih teringat persiapan belajar sendiri soal2 ujian itu selama sebulan, ngebul otakku dan teringat pula bagaimana cemasnya perasaanku ketika mengerjakan soal bersama dengan puluhan ribu calon di stadion utama senayan, perutku mulas mulas, pertanda stres tertinggi tiba.
Perasaan seperti mimpi itu muncul lagi kemarin. Bagaimana tidak, pagi hari sambil ngadem di brightcafe, aku dihadiahi teman baikku perangkat komunikasi tercanggih saat ini, mungkin dia malu sebagai teman melihatku masih menenteng N9300 yg sudah setengah huruf di keyboard ”mrothol” semua dan jos… jam 09.15 nomerku berpindah ke handset canggih itu. Kembali ke mejaku, kubaca email info Fb seorang teman yang anaknya diterima di Universitas Pajajaran-Bandung, langsung aku sms nyonya, bertanya apakah si jagoan yg tidak naik kelas itu diterima, dengan perasaan seorang pembeli iseng yang menawar barang dengan harga yg tidak mungkin akan dikasih oleh penjualnya.
Jawaban nyonya ”Iya diterima kata dia (maksudnya si jagoan), tadi kan ku sms”, sms tidak kuterima dan aku juga tidak bisa membuka hasil tes itu, karena membutuhkan nomer ujian dan perasaanku biasa saja, karena masih yakin, dia tidak diterima, lha kelakuannya yg seperti itu kok (baca posting 1 dan 2). Ketika, dia sdh menjawab smsku, kuminta nomer tesnya dan jreng….. layar komputerku menunjukkan foto anakku dengan data pribadi singkat untuk tes dan dibawah ada tulisan besar huruf kapital berwarna merah LULUS !!!, Aku stunned, bohwat (linglung) banget hehehe…..
Sore, aku telpon nyonya dan ternyata dia juga intonasi suara di telpon biasa biasa saja, mungkin sukses menahan emosinya. Kuminta gagang telpon dipindah ke si jagoan fandi dan cuma kubilang ” Hebat lu diterima di Sastra Rusia Unpad, selamat ya..!!”, dia membalas ”Iya dong, kan gua belajar…”. Entah bener atau tidak dia belajar, yang pasti pilihan sastra rusia itu nampaknya dia pilih karena persaingan pemilih yg kecil yang kuketahui saat dia browsing di internet. Ini mungkin Suudzon, tetapi bagaimana tidak, puluhan judul novel terjemahan dan berbahasa asing karya pengarang Rusia itu ada di rak buku kami, belum pernah satupun dia sentuh. Bisa ketika diminta menyebut 3 kota dirusia saja dia tak mampu menjawab.
Saya masih bohwat sampai pagi tadi dan sedikit sakit perut. Ternyata nyonya sudah mengontak semua orang yg direpotin oleh si jagoan ini, terutama guru2nya dan tentu tanggapannya beragam. Saya yakin, anugerah kesenangan kemarin merupakan buah kesabaran nyonya yang aku tau disaat awal merasa paling sutris daripada aku yang memang gede di jalanan. Nyonya juga kulihat makin rajin bangun tengah malam, upaya seorang ibu untuk kebaikan anaknya memang selalu luar biasa (ketika menulis ini airmataku meleleh….mahasuci Tuhan) tak tersaingi oleh apapun.
Aku hanya mengingat email cak Satria kemarin ”dia sudah membuktikan bahwa dirinya mampu, you need to appreciate it”, tentu cak. Tadi malam pulangnya tak tungguin, jam 23.00 lebih dia nongol dipintu sambil nyengir, Kurangkul dia dan kuucek ucek rambutnya yg gondrong sambil kusampaikan ”Selamat lu diterima,.. gitu dong hebat, janji gua ngasih elo dokat untuk makan2 besok gua kasih…”, dia cuma cengengesan dan bilang ”iya dong,….”. tadi pagi, kutitipkan duit kepada nyonya yg cukup untuk mentraktir 10 orang temannya sekenyangnya di restoran di depok.
Jakarta/Depok
6/5/2010
Related posts:
- Ketika Anakku Tidak Naik Kelas (2) Hari sabtu pekan lalu, saya diundang oleh SMA dimana maman,...
- Ketika anakku tidak naik kelas Anakku, sejak balita tidak pernah diam, bahkan saat tidur tidak...