Setelah 17 tahun tak menengok desa di mana adikku tinggal, istriku kutemani kembali berkunjung kesana, ke desa karasikan di tepi jalan trans Kalimantan, di kabupaten Hulu Sungai Selatan, 4 Km dari kota Kandangan, ibu kota Kabupaten itu. Sehari sebelumnya, setelah menghadiri pelatikan pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kalsel dengan 8 pengurus Kabupaten/Kota-nya di sebuah GOR yang dihadiri oleh 2500 an guru dan Gubernur kalsel Rudi Arifin, kami berdua bak pengantin baru, berkunjung ke sebuah kabupaten paling miskin di Indonesia ini, Barito Kuala (Batola) dengan ibukotanya Marabahan dan biasa disebut Bakumpai.
Aku baru sadar mengapa disebut Barito Kuala, karena dipusat kota itulah sungai Barito seperti kuala (danau) luasnya, manusia diteian lain tak terlihat dank arena seperti kuala di tengah sungai barito yang 40 Km dari muara sungai di banjarmasin itu, terlihat tanaman gulma air… yang dalam bahasa banjar disebut ilung dan bahasa bakumpai disebut kumpai berputar putar.
Di tempat yang dahulu desa yang sudah menjadi kota kecil inilah ayah dan ibuku dilahirkan sebagai penduduk asli marabahan, konon beliau keturunan dayak bakumpai dengan bahasanya sednri yang sangat berbeda dengan bahasa banjar. Kata ibuku mirip bahasa barito dan dayak. Belum 20 tahun jalan darat dari banjar masin dibuka kedaerah ini yang sebelumnya hanya bisa dijangkau melalui jalan air sehari semalam. Ibuku sering bercerita bahwa tentara Jepang menyerang Kalsel malalui Marabahan dan kota kecil yang dulu desa itu di bom, kakekku dan ibuku yang masih mengandung almarhum kakakku pertama mengungsi ke hutan. Tak terbayangkan lebatnya, sekarang saja masih terlihat sangat sepi, meski sudah sulit dicari kelebatan hutan itu. Aku stunned banget bisa menghirup udara tanah leluhurku, mungkin sudah telat pada usia awal setengah abad ini.
Kami berdua mencari kubur leluhur yang ternyata masih ad adi pinggir masjid yang sekarang menjadi masjid jami terbesar disana pas di tepi barito yang hany sepelemparan batu dari pagarnya. Kawasan ini dahulu miliki kakek dari ibuku, Haji Fathur. Beliau berhaji masih dengan kapal belanda dan kotak kayu yang dipakai untuk membawa barang saat berhaji masih kami simpan menjadi barang antik.
Kubur itu memang terlihat tua, nisannya berbentuk bulat meruncing seperti gada dari batu dan sudah terlihat lapuk dimakan usia. Kubur itu banyak, mungkin puluhan dan dip agar serta dipelihara oleh mereka yang masih terhitung saudara kami. Kata ibuku, Bupati saat ini masih terhitung keluarga jauh, aku sendiri tidak kenal dan katanya terhitung ponakan. Ayahku sekarang berusia 92 tahun dan ibuku 87 tahun, keduanya masih hidup dan sehat di Malang.
Tak terbayangkan seperti apa sepi dan terkucilnya daerah ini 75 tahun yang lalu, ketika mereka remaja dan 80 an tahun ketika mereka bocah. Pantesan ibuku hanya DO dari madrasah ibtidaiyah dan diajari membaca oleh adik lelaki bungsunya. Aku kagum dengan ibuku yang betul betul dari desa terpencil itu, dia hobi membaca dan bacaanya adalah majalah Tempo.
Sebelum ziarah makam leluhur, kami santai di dermaga klotok (perahu kecil bermesin) di pasar marabahan. Mengudap gegodoh (pisang dicampur tepung digoreng kering) dengan minum the manis panas, luar biasa rasanya. Sayang kami masih kenyang, jika tidak akan kami teruskan makan sate yg kata Liza istriku rada aneh warna bumbunya.
Kalsel kurasakan sedang sekarat, meski tidak terasa olehku dan pasti bisa dirasa oleh mereka yang masa kecilnya disini sedikitnya 30 tahun lalu. Meski jalan darat semakin licin, tetapi konon sungai menyempit dan kayu ulin (kayu besi yg semakin kuat jika tercelup air) langka bahkan kruing (sangat keras dan tak dimakan kumbang) semakin sulit dicari. Barito dari banjarmasin di sebrangi melalui jembatan berayang yang megah dan jalur darat ke Kalteng juga bisa ditempuh semakin dekat dengan melalui jembatan Barito.
Menikmati marabahan badanku serasa enteng, pikiranku menerawang puluhan tahun, menebak apa yg terjadi disini dan dilakukan oleh abah dan mama serta leluhurku. Menelusuri jalur leluhur memang selalu mengasyikkan. Inilah intisari pulang yang selalu menyenangkan, jika dilakukan dengan ikhlas, termasuk pulang keharibaan Yang Maha Kuasa. Aku pulang ke banjarmasin dengan pikiran dan perasaan penuh. Sesekali mengupload foto foto eksotik Liza istriku di dermaga dengan latar belakang sungai barito yang seperti kuala itu.
Jakarta 18 Mei 2010
Ahmad Rizali
Related posts:
- Banjir 2007: Hati masygul tetapi tidak terkejut Nyaris 25 Tahun yg lalu, ketika penulis sedang senang senangnya...