19 May, 2010
Pulang (2)
Posted by: Ahmad Rizali In: Budaya|Catatan|Kearifan Lokal|Keluarga|Liburan|Pernak-pernik
Kami masuk ke hotel swisbel di tepi sungai Martapura pada jam 20.00 petang, setelah makan malam di sebuah restoran terbuka di pinggir jalan sekitar area belitung, tak jauh dari kampus Universitas Lambung Mangkurat banjar masing. Kampus ini khusus ilmu social, sedangkan di banjarbaru khusus MIPA, teknik dan kedokteran serta pertanian dan kehutanan. Konon mahasiswanya total sejumlah 14.000.
Restoran ini, seperti warung tenda jalanan, hanya saja dibuka pas dipelataran rumah pemiliknya dan beratas permanent. Langsung saya dan istri memesan soto banjar dan dua ekor udang galah goring, driver mobil avanza yang kusewa 250 ribu per hari itu memesan ikan pipih (di palembang disebut ikan belida) bakar. Tak lama makan malam datang, selain sotonya yang memang khas soto banjar (di Jakarta sudah mulai banyak dijual, cobalah yang di jalan Sahardjo dekat masjid) dengan ketupat yang dipotong tidak simetrik, udang galahnya sunggung lezat, masih terasa manis. Pantes cukup mahal, udang sebesar pisang ambon sedang itu berharga 25.000 se ekor. Ada tips makan enak ”jangan tanyakan harga makananmu, karena akan mempengaruhi kenikmatan saat memakannya”, tips ini rasanya benar.
Di hotel ini kami bak berbulan madu dan menikmati welcome drink serta kamar hotel yang sangat bersih, meski terasa agak berbau rokok. Sarapan paginyapun lumayan enak, diiringi musik khas kalsel yg berbasis musik dayak. Meski hotel memberi servis berkunjung ke ”Pasar Terapung” yg RCTI Oke !! itu, kami tak sempat menikmatinya, hanya menenteng compliment dari hotel berupa penganan kecil dan sasirangan, tekstil celup ikat khas Kalsel. Hotel ini bertarif promo semalam 620.000, berbintang empat.
Menuju Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Meski telat sejam, seharusnya berangkat jam 08.00, menjadi jam 09.00 driver pinjaman kami serka Rhenhard, prajurit keturunan dayak kalteng itu menyetir avanza sewaan dengan trampil, dia mengaku SIM-nya habis masa pakai. Kami langsung menyusuri jalan ahmad Yani menuju arah utara. Kami melewati kecamatan Gambut, Ulin (Airport) banjar baru dan masuk martapura, kota permata.
Banjarbaru sangat terasa perubahannya secara fisik. SMPN-1 dimana aku sempat sekolah satu semester sudah menjadi sekolah elit, konon ini sekolah bertaraf internasional (alamak), disana putra dandim dan pejabat provinsi dan kabupaten kota bersekolah. Di awal tahun 1970, sekolah ini masih dikelilingi sawah. Saat istirahat, kami para murid lelaki kencing berjajar dipematang sawah sambil melongok ikan gabus berenang. Sekarang, sawah berubah menjadi rumah tinggal dan lapangan kosong dimana kami biasa upacara sudah menjadi gedung megah. Meski hanya 1 semester, aku tak akan lupa dengan sekolah ini, karena saat itu aku juara kelas dan dijajar di lapangan upacara untuk disalami semua murid sekolah itu, telapak tangan pegal abis. Satu guru yg kuingat, ibu Tutik. Bukan karena cantiknya, tetapi karena tegasnya dalam mengajar ilmu ukur.
Kuminta driver menuju SDN dimana aku diluluskan melalui jalan kecil via pasar. Pasar tidak begitu berubah, jalanan juga tetap, meski beberapa rumah berubah sosok menjadi toko. SDN-3 Mawar Kencana, sekarang menjadi SDN Banjarbaru Utara-2 dan menjadi sekolah elit pula. SDN ini masih disebut SD Mawar, pendatang baru bingung dengan sebutan itu. Istri Dandim yang putranya bersekolah di sana, meski dia tinggal di Martapura, baru ngeh ketika kusebutkan sejarah sekolah itu. Pak Dandim itu teman baik istriku saat dia sekolah di AMN Megelang dan istriku di UGM Yogya. Kami puteri jalanan yg mengelilingi sekolah itu, tidak banyak berubah, hanya gedungnya lebih baik, namun tunggu dulu….. lapangan dimana kami bermain kasti sudah hilang, diganti gedung sekolah megah berlantai dua, kemana murid murid SD ini bermain ?
Sesudah puas memutar kembali ingatan semasa SD, kami langsung tancap gas menuju kandangan, ups nanti dulu. Kami mampir berkunjung ke dekan Fakultas Teknik Unlam, Prof Dr Ir. Rusdi, temanku saat menuntut ilmu di Universitas Strathclyde Skotlandia. Aku sering makan di flatnya, karena dia membawa keluarga saat sekolah S3 selama 4 tahun, aku hanya setahun. Dia kaget, tak menyangka aku berkunjung, tak banyak yg bisa kuceritakan, kecuali pak Rusdi masih ramah dan hangat, dia calon rektor Unlam.
Berkenalan dengan Ketupat Kandangan
Diselingi sholat Jum’at di kota Rantau, ibukota kabupaten Tapin, kami tiba di kabupaten kandangan, setelah menempuh jarak sekitar 140an Km, jalan sangat mulus dan konon karena diperbaiki, sesudah dirusak oleh truk besar pembawa batubara. Saat ini truk itu memilik jalan sendiri yang mereka bangun sendiri pula. Sebelum tiba di desa karasikan, 4 km sebelum kota Kandangan, dimana adik lelakiku berdagang dan memproduksi gorong gorong, kami sempatkan mengudap ketupat kandangan. Ketupat pera diguyur kuah seperti kari putih bersantan kental, disana ada ikan gabus (disini disebut ikan haruan) yg dimasak, alamak gurih nian…. istriku kaget dan bilang ”cuma gini aja nih, sepi amat…”. Dia terbayang dengan ketupat sayur betawi dan padang yg ada sayuran nangka muda atau buah labu siam, eh disini hanya kuah kari. Kelezatannya melebihi kedua ketupat sayur tadi.
Di rumah adikku, kami disambut makan siang dengan ikan haruan bakar dan ikan saluang goreng bertepung yang gurih. Yg saya tidak kuasa menahan napsu menambah nasi adalah, sambal pedas dengan potongan mangga muda itu lho,… selain nasinya memang pulen dan haruan bakar yang begitu gurih, wuih…. sesudah bertahun tahun saya tidak pernah menmbah nasi, meskipun saat ramadhan, di kandangan, saya tergeletak kekenyangan.
(Bersambung)
Related posts:
- Pulang (1) Setelah 17 tahun tak menengok desa di mana adikku tinggal,...