Adikku lelaki menikah dengan warga asli kandangan sejak 17 tahun yang lalu, mereka dikaruniai 2 anak, Putra dan putri, Anak sulungnya lelaki sekarang baru lulus SMP setelah tertinggal setahun, mogok sekolah. Dia mogok karena merasa tidak cocok dengan sekolah dan gurunya, mengingat dia sirumah diajari pelajaran oleh uwaknya setingkat lebih tinggi dari sekolahnya dan seringkali guru tersinggung karena si anak, Fajri namanya, menjadi banyak bertanya, sangat kritis. Kakek Fajri dari pihak ibu juga manusia pilihan. Meski hanya lulusan SGA di kabupaten itu, dia fasih berbahasa inggris dan sering menjadi pemandu wisata, kakek Fajri yg sekarang berusia 70 tahun juga pembuat laying laying yang sangat handal. Sesekali dia berkunjung ke rumah mantu dan cucunya mengendarai sepeda motor, terkadang bersepeda.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) ini merupakan kabupaten secara ekonomi tidak banyak berubah. 17 tahun aku tak kesana, tak satupun ada jalan baru dibuat, bangunan baru di kota hanyalah kantor bank BRI. Pusat kotanya masih seperti dulu, hanya pepohonan yang tambah rimbun dan marka jalan yang semakin banyak dan jalan yang mulus. Konon Kabupaten ini masih enggan jor joran menggali batubaranya seperti Kabupaten tetangga, Tapin yg mulai rusak menyeruak. Namun pertahanan itu jebol juga, di daerah Lhok Sado, tempat komunitas Dayak Lhok Sado, konon sudah ada yg diberi konsesi penggalian batubara.
Dengan PAD yang hanya 1,8 Milyard rupiah, adikku bilang Pemkab mengajukan APBD sebesar 40 an Milyard “darimana sisanya”, begitu dia bilang. Tentulah dari pusat pemerintahan. Kulihat, meskipun ber APBD dan PAD rendah, tidak ada warga HSS yang sangat miskin apalagi kelaparan. Warga asli umumnya masih memiliki lahan sawah dan menyimpan padinya untuk setahun. Untul lauk mereka memelihara unggas dan kadang memancing (me-unjun dlm bahsa banjar) untuk dijual jika perolehan berlebih. Kelapa dan air nira untuk gula merah juga melimpah, untuk yang ingin makan sayur, daun singkong bertebaran. Cabe dan tomat atau belimbing wuluh serta jeruk nipis tinggal memetik. In prinsip sebetulnya mereka sejahtera bahkan airpun sudah dialiri oleh PAMD, jika ingin air tanah, cukup baik untuk keperluan selain minum.
Penganan tradisional
Sore hari kami ke pasar yang sudah tutup, beberapa penjual masih menggelar dagangan di pinggiran jalan. Mengejutkan, 80% buah impor sudah membanjiri pasar di kota kecil ini. Meski ada yg menjual buah semangka local, namun anggur, jeruk, apel, pir dll sudah made in china. Masih terlihat dijual dalam tumpukan kecil kecil, buah jambu bol dan istriku terperanjat melihat mereka menjual asam kandis, hitam2 kecil seperti biji manggis tetapi berkulit tipis. Kalau ingin makan isinya, dua bijinya diadu dan pecah,… rasanya asam manis, eksotik. Adapula buah mentega, entah apa istilahnya dalam bahasa Indonesia.
Sayang disana tak kulihat buah karamunting, buah tanaman semak yang konon makanan pelanduk dan seringkali kami petiki di hutan saat masih kecil. Buah ini berwarna hitam saat matang sebesar buah ceri.
Mereka juga menjual penganan khas kota ini, “untuk-untuk”, rotigoreng dengan isi “inti” parutan kelapa dicampur gula merah, ada pula serabi, putu mayang, apam bathil (sejenis kua apem di jawa). Terlihat jenis pengannya sangat berbasis local, selain yang menjadi sangat terkenal di luar daerah sepeti dodol kandangan. Dodol ini menurut saya yang ter enak dibandingkan dodol sejenis di garut, jawa dan betawi. Mungkin karena dioleh nyaris seluruhnya dari produk local: ketan, kelapa terbaik yg dijadikan santan, gula merah dari pohon aren dan dimasak diatas api kayu yang semuanya local, mungkin hanya kuali dan korek apinya dan beberapa tambahan, jika ada seperti tepung, yg dibeli dari luar daerah.
Makanan khas ketupat kandangan juga berbasis local, cobalah tengok: kuah kari kental, tentulah dari buah kelapa tua yg terbaik, ikan haruan adanya di persawahan, ketupatnya dari beras local yg di bungkus daun kelapa dlsb. Mungkin karena nyaris semua local, maka masih terasa sangat segar dan alamiah dan tentunya sangat lezat. ”Sayang belum musim manggis dan rambutan, kalau sedang musimnya kadak temakan-tdk termakan” ujar adikku. Barulah aku mahfum mengapa adikku yang punya sifat sangat bersahaja dan persis orang Amish itu betah tinggal di kota kecil ini, nyaris semua ada. Jangan lupa, yg modern juga dia nikmati, antene parabola dan internet.
Pasar tradisional
Liza exited karena diberi kesempatan tidur didipan berkelambu, meski remang remang karena listriknya memang kecil dan dinding rumah yang dari kayu itu. lantai rumah panggung itu dari kayubesi, termasuk tiang penyanggnya. “kalau banjir, kami sering memancing dari pelataran rumah” adikku berujar sambil nyengir. Selain sisi kanan dan depan yang di pakai membuat gorong gorong, sekeliling rumah adalah sawah dengan padi tdah hujan yang sudah mulai menguning, eksotik bukan ?
Di pagi hari Liza ergi ke pasar yang konon sedang rame, dia stunned,… banyak jualan yang baru dia kenal, termasuk berjenis ikan. Dia membeli kipas dari rotan pesananku untuk kala panas di Depok, dia juga membeli putu mayang, serabi dan lepat berkuah gula merah. Oya kemarin kami juga mencoba mengudap lemang dari ketan hitam yang dimakan dengan kacang polong ditaburi bumbu bumbu gurih, rasanya semuanya tanpa ada pengawet.
Saat pulang menuju banjarmasin aku merenung, mungkin suatu saat nasib aneka kekayaan kuliner itu akan sama dengan penganan betawi seperti kerka telur dan aneka penganan lain yang hanya akan muncul saat ada pekan raya jakarta, itupun pasti tidak se yummy kala betawi masih berhutan dan tak berlistrik. Kentucky fried chicken sudah merambah ke banjarbaru 140 km di selatan kandangan dan laku keras. Dalam sejarah, nasib warga asli memang selalu terpinggirkan, setrampil apapun mereka menyesuaikan diri dengan perubahan jaman.
Penutup kuliner kami di kalsel adalah itik panggang di banjarmasin, lezat nian. Makan siang pertama di banjarmasin sebelum menuju marabahan, bertempat di restoran cempaka yg konon terkenal dengan nasi kuning (seperti nasi uduk berwarna kuning karena diberi kunyit) dan haruan masak habang (ikan gabus goreng dengan kuah bumbu bali). Kami pesan ikan haruan dan ikan pepuyu goreng plus urap sayur. Disinilah Liza pertama kali makan ikan pepuyu yang sangat lezat itu, dan pertama kali pula tertusuk durinya hingga berdarah. Ikan ini memang terkenal berduri dan oleh warga kalsel sering disimpan dalam taburan garam dan disimpan dalam belanga, disebut iwak wadi’, wow…. lezat.
Terbayang olehku dikala kecil ibuku menyumap (menguapi panas) ikan asin haruan dan kami makan dengan nasi beras dari gambut yg agak pera itu dengan sambal dari merica butiran yg diulek halus, diberi air sedikit, asam jawa dan garam serta ditaburi irisan bawang putih, yummy….. pulang selalu menyisakan kesegaran jiwa sekaligus kesenduan mengingat masa kecil dan saya semakin mahfum, mengapa banyak orang yang ingin dikubur saat wafat di tanah kelahiran dimana dia menghabiskan masa kecil dan di sisi orangtuanya, terutama ibunya.
Jakarta
19 Mei 2010
Related posts:
- Pulang (2) Kami masuk ke hotel swisbel di tepi sungai Martapura pada...
- Pulang (1) Setelah 17 tahun tak menengok desa di mana adikku tinggal,...