20 May, 2010
Pelayanan KRL Ekspres Jadebotabek Memburuk
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Depok|KRL|Pernak-pernik
2 bulan yang lalu, saya masih dengan bangga bercerita tentang kehebatan menggunakan transportasi umum KRL komuter jadebotabek dan mencemooh mereka yang masih dengan setia bermacet ria dan mengorbankan kredibiltasnya untuk tidak tepat waktu dalam menunaikan janji. Bagaimana tidak, KRL komuter jadebotabek, terutama lajur kota/tanah abang menuju bogor begitu nyaman dan tepat waktu sekaligus mematok ongkos yang sangat masuk akal.
Nyaman, karena meskipun banyak penumpang nyaris tidak pernah memperoleh tempat duduk, namun ketika ikut KRL Bojong gede ekspres rute Bojong-Kota atau depok ekspres rute depok-Tanah abang, namun mereka masih punya ruang untuk bergerak dan membaca Koran pagi. KRL ini juga nyaman, karena pendingin ruangannya sangat sejuk di pagi hari, bahkan kadangkala beberapa penumpang sengaja tidak melepas jaketnya di dalam KRL.
Tepat waktu, karena keterlambatan KRL ini sangat jarang, jam 06.18 berangkat dari stasiun pondok cina, seringkali hanya terlambat beberapa menit dan tiba di stasiun gambir sekitar pukul 06.50, kadangkala saking cepatnya dipacu mereka tiba jam 06.45. Beberapa karyawan yang bekerja di sekitar kawasan monas, tanpa tergesa dan cemas tetap mampu memenuhi ketapatan waktu. Apalagi cukup banyak prajurit kostrad dan garnisun yang menumpang KRL ini.
Ongkos KRL ini juga sangat masuk akal. Penumpang dipatok ”hanya” Rp. 9.000, setara dengan hampir 1 US dolar atau sekitar 0,8 pound. Sebesar itu pulalah ongkos tube underground di london, rasanya juga di NewYork. Dan, ongkos sebesar itu tak tersaingi dengan jika naik kendaraan umum lain beberapa kali. Jangan bandingkan dengan taxi, yg tarif bawah akan menelan hamper 80 ribu dan hamper 100 ribu untuk jenis blue bird.
Namun sudah beberapa hari ini, KRL komuter memburuk. Baik saat berangkat atau pulang bekerja. Jika awalnya mereka mengangkut penumpang dengan 8 gerbong, yang sering disebut 2 unit, sekarang kadangkala mereka hanya mengangkut dengan 6 gerbong, bahkan hanya 1 unit atau 4 gerbong, seperti KRL Bojong gede expres tadi pagi. 4 gerbong itupun tanpa pendingin ruangan, hanya ada angina semilir yang keluar dari ventilasi. Cobalah bayangkan padatnya penumpang KRL tadi pagi dan kondisi di dalamnya.
Ketika masuk KRl di stasiun Depok, beruntunglah aku sedikit agak di depan pintu, sehingga dengan diampun akan terdorong masuk. Penumpang terkahir hanya berhasil masuk setelah berkali kali mendorong penumpang di depannya. Di stasiun UI, beberapa penumpang gagal masuk KRL dan saya yakin petugas stasiun dengan lemas hanya akan meminta maaf dan mengembalikan ongkos yang sudah dipakai membeli karcis.
Ternyata gerbong itu tidak sebesar biasanya, meskipun dilengkapi dengan sign board elektronik yg menunjukkan rute KRL dan ucapan selamat sampai tujuan yang berjalan bak running text di TV. Tak seperti biasa, tak ada satupun penumpang yang membaca Koran dan duduk di kursi lipat saking sempitnya, bahkan ditengah perjalanan cukup banyak yang mendesah kesal dan keningnya berkeringat. Saking pengapnya udara di dalam KRL, dinding kaca terlihat berembun.
KRL tiba di stasiun gambir pukul 07.00, tidak terlampau buruk, namun baru kali ini saya mendengar umpatan dari beberapa penumpang setia KRL rute itu “Payah banget…” ujar seorang bapak dengan kepala yang sudah memutih yang saya duga adalah pejabat dari sebuah BUMN besar yang berkantor di dekat stasiun, sambil berjalan gontai.
KRL jadebotabek ekspres AC adalah harapan yang sedang tumbuh dan hingga sebulan lalu masih menangguk penambahan penumpang, terutama kelas menengah. Hampir semua lahan parkir resmi dan tidak resmi di stasiun di depok, bojong gede dan citayam dan tentu bogor, penuh dengan mobil dan motor. Mereka mulai mencintai pelayanan KRL itu yang sukses mempraktekan keseimbangan quality circles, yaitu price, deliverability dan quality of service sebagaimana yang disebutkan diatas. Restoran padang juga sukses bertahan dari gempuran makanan impor karena sukses mempraktekkan circles of quality itu.
KRL bojong dan depok ekspres, sedang dalam kondisi kritis, meski harga dan deliverabilitynya masih cukup baik, tetapi pelayanannya memburuk, sehingga akan terjadi ketidaksetimbangan dalam quality of circles tersebut dan jangan heran, ketika tidak segera diperbaiki, maka pencinta pencinta baru akan segera meninggalkannya dan memenuhi jalan yang sudah macet itu dengan mengorbankan deliverability atau ketepatan waktu.
Saya menulis semua ini dengan pakaian dalam yang masih terasa lembab karena berkeringat, sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sebulan yang lalu. Kondisi KRL jadebotabek Ekspres yang memburuk ini, sudah terlihat jelas, tidak perlu sebuah sigi dari konsultan independent untuk membuktikannya. Ayo PTKA, segera perbaiki kondisi ini, kalian sudah pernah melakukan sesuatu yang sangat baik, tentulah memperbaiki perkara ini adalah masalah sepele.
Jakarta
20 May 2010
Ahmad Rizali
Komuter KRL Jadebotabek
Related posts:
- KRL Bojong Ekspres (BE) Adakah moda transportasi yg lbh cepat dari KRL ketika jam...
- Suatu Hari di KRL Ekonomi AC (2) KRL ekonomi AC membuka pintunya di stasiun Pondok Cina, masyaallah...
- SUATU PAGI DI KRL EKONOMI AC Tertinggal KRL ekspress Bojonggede membuatku menunggu KRL berikutnya dan pilihan...