23 Jun, 2010
22 Juni 2010: Pelayanan KRL Ekspres di Jadebotabek Semakin Buruk
Posted by: Ahmad Rizali In: Budaya|Catatan|KRL|Pernak-pernik
Kemarin, 21 Juni Jakarta berulang tahun kelahiran dan nyaris setengah abad usia ibukota itu. Konon dari hasil sensus penduduk sementara, Jakarta saat ini berpenduduk lebih dari 9 juta jiwa dan merupakan jajaran kota berpenduduk terbesar sedunia. Jakarta juga tempat dimana duit negeri ini berputar, asal mau berkeringat saja, dijamin tidak akan kelaparan jika ingin hidup di Jakarta, meski tidak ada lahan yg bisa ditanami seperti di desa. Jakarta kejam seperti ortu jahat yg suka memukuli anaknya hingga berdarah darah namun tetap memberinya makan.
Warga Debotabek umumnya mencari nafkah di Jakarta dan mereka pergi pulang dari Rumah ke tempat kerja menggunakan berbagai moda transportasi, Tentunya yang terbanyak adalah pemotor dan pengguna kendaraan umum seperti bus, angkot dan kereta listrik (KRL). Bus yg terbaik saat ini adalah Trans Jakarta yang meski dibandingkan angkutan umum di berbagai negara masih yg terburuk, mereka laha yg terbaik dari yg terburuk di Jakarta. Meski DKI berultah, tetapi moda transport ini belum lebih baik dari saat diwariskan oleh Gubernur Sutiyoso ke Fauzi Bowo.
KRL debotabek sebetulnya merupakan moda transport yg lebih strategis dari Transjakarta, karena merupakan hub dari kota yang melingkari Jakarta. Dengan KRL mereka komuting (pergi pulang) dalam bekerja. Sekian menit saja jadwal KRL terganggu, maka ribuan penumpang terganggu dan sekian ribu pekerjaan pula terganggu. Penumpang itu tidak gratis, karena mereka membayar seperti harga tarsnpor umum di negeri maju. Bukankah karcis underground di London dengan jarak tempuh sekitar 50an Kilometer seharga sekitar 80 penny atau setara dengan 1 USD atau 9000 rupiah ?
Sudah dua kali saya menulis dib log ini kekecewaan atas pelayanan KRL yang merupakan andalan terakhir saya dalam menempuh jarak sekitar 80an Kilometer lebih dalam bekerja pergi pulang. Dalam tulisan sebelumnya, meski KRL bojong gede ekspres menelantarkan kenyamanan, satu dari 3 quality circles kesuskesan, tetapi deliverability atau ketepatan waktu masih dipenuhi. KRL tanpa AC yang angat tidak nyaman dan berjubel, masih tiba tepat waktu di tujuan.
Kemarin dan hari ini, 22 dan 23 Juni 2010, pelayanan KRL semakin buruk. Dengan jubelan dan tanpa AC dan kipas angin yang sangat buruk serta jendela yang tidak bisa dibuka, KRL bojong terlambat hamper 30 menit dari jadwal yang dijanjikan dan tanpa pemberitahuan dan permintaan maaf, tadi pagi. Penumpang berangkat kerja nyaris semua bersungut sungut dan basah kuyup keringat, beberapa bedak penumpang terlihat luntur. KRL ini semakin buruk saja. Kemarin dari stasiun dukuh atas, setali tiga uang. Satu jadwal dibatalkan dan tentu saja penumpang satu KRL menyerbu jadwal berikutnya dan dapat dibayangkan, meskipun saya naik KRL yang menuju Tn Abang dari dukuh atas dan berupaya untuk berdiri di tengah, desakan hebat masih saya rasakan dan kakipun tak mungkin berubah posisi. Beberapa penumpang yg terlahir bertubuh pendek terlihat seperti ikan kehabisan air, megap megap… saya tidak tau, apakah AC-nya mati, karena tidak terasa kesejukan sama sekali.
Saya turun di stasiun depok baru dengan upaya dahsyat menggeser badan dan mendorong penumpang lain dan tak terasa badan saya basah kuyup. Sambil bersiap naik ojek menuju Rumah, saya tersenyum kecut dan merasa masygul, kapan negeri ini menjadi semakin baik dalam mengurusi transporasti public seperti ini, jika semua pengambil kebijakan, khususnya dalam bidang transportasi tidak pernah merasakan dahsyatnya pengalaman keseharian penumpang KRL ini. Ini baru KRL ekspres bung, saya yakin KRL ekonomi yang milik warga jelata itu lebih dahsyat lagi, cobalah…
Jakarta, 23 Juni 2010
–
nanang
http://ahmadrizali.com
Related posts:
- Pelayanan KRL Ekspres Jadebotabek Memburuk 2 bulan yang lalu, saya masih dengan bangga bercerita tentang...
- KRL Bojong Ekspres (BE) Adakah moda transportasi yg lbh cepat dari KRL ketika jam...

