AhmadRizali.Com

05 Jul, 2010

MEMPERTANYAKAN KEMBALI PROFESIONALISME GURU

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Guru|Klub Guru|Pendidikan|Sekolah

Wawancara dengan Jurnal Edukasi

Dari hari ke hari dunia pendidikan semakin dituntut untuk melahirkan output yang memenuhi harapan masyarakat. Di samping harus mempunyai keterampilan praktis, siswa yang ditempa di institusi pendidikan juga dintuntut memeliki kepekaan sosial dan mental serta kepribadian mulya. Menjadi terampil, pintar dan kompeten di bidangnya, tapi kemudian menjadi koruptor, makelar kasus, dan penjilat, tentu hanya akan menjadi malapetaka buat bangsa. Oleh kerenanya, akhir-akhir ini santer terwacanakan pendidikan perlu ditangani oleh guru-guru profesional. Salah satu terobosan cukup brilian yang dimunculkan dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru ialah kebijakan sertifikasi guru dan dosen. Sertifikasi pada gilirannya menjadi rebutan kalangan pendidik, baik guru swasta maupun negeri, baik yang ada di kota maupun yang ada di pelosok desa, apalagi lulus sertifikasi – di atas kertas – telah layak mendapatkan predikat”guru profesional”. Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya pofesionalisme guru itu? Berikut wawancara Jurnal EDUKASI dengan Ahmad Rizali, Ketua Dewan Pembina The Centre for The Betterment of Education (CBE) Jakarta

Definisi guru profesional, secara teoretik sangatlah ideal, yakni memiliki kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Namun, jika dijelaskan dengan sederhana, seperti apakah gambaran guru profesional itu?

Guru professional adalah guru yg menguasai materi yg diajarkan, mampu mengajarkannya dengan menyenangkan dan memiliki pribadi yang mampu memberi inspirasi kepada muridnya (tauladan).

Bagaimana bisa menjadi guru (silat misalnya) jika tidak menguasai ilmu (silat)? Ketika guru tidak menguasai ilmunya dan mengajar, sudah pasti dia berbohong kepada murid-muridnya, setidaknya tidak menyampaikan apa yg harus disampaikan. Dia ibarat program komputer, hanya menyampaikan hoac atau spam, atau bahkan virus.

Ketika mengusai ilmu (silat), dia juga harus mampu mengajarkannya. Jika tidak, si murid hanya akan kelimpungan karena ilmu tadi tidak berhasil dia kuasai. Ibarat dalam instal program, si guru tidak mampu menginstal dengan benar, sehingga hasilnya program-program (baca-mata pelajaran) tidak terinstal dengan proper/benar dan sering konflik, bahkan “hang” Ketika menginstal atau mengajar, si guru juga musti mengerti kemampuan dasar sang murid, atau analogi komputernya adalah tahu kapasitas RAM dan ROM-nya, apakah masih 486 atau sudah Intel Core 2 Duo. Jangan memaksa instal program yang membutuhkan kapasitas besar ketika guru tahu kapasitas muridnya terbatas. Jangan heran, ketika gurunya pas-pasan dan muridnya pas-pasan pula di instal program yg rumit, hasilnya tidak ada. Itu barulah analogi ilmu komputer, manusia lebih rumit lagi.

Guru yg tidak mampu memberi insiprasi adalah guru biasa-biasa saja. Cobalah bayangkan, bagaimana murid akan menghormati seorang guru jika pakaiannya kumuh, wajahnya kusam, rambut acak-acakan dan badannya bau. Sudah demikian, suaranya hanya dia sendiri yang mampu dengar saking pelannya. Dan yang juga parah, ketika menulis di papan tulis, tidak terbaca. Ini barulah penampilan guru yang terlihat dan terdengar. Belum lagi jika guru tersebut sangat pemarah dan seringkali menghukum tanpa alasan yang jelas, bahkan seringkali menceritakan masalah pribadi keluarganya kepada para murid di depan kelas. Masih mending jika sang guru pandai dan menguasai mata pelajaran, lha, kalau dia juga tidak menguasai… kiamatlah sebuah kelas yang memiliki guru seperti itu. Saya sarankan, lebih baik seluruh murid diminta untuk belajar mandiri dan dibimbing dari jauh saja.

Jadi, ketiganya adalah sebuah keharusan, meskipun ibarat menyetir, untuk sampai menjadi supir dengan SIM B-Umum yang diperbolehkan menyetir trailer atau pilot senior yang diperbolehkan menyetir pesawat Boeing 747 Jumbo, diperlukan praktek dan evaluasi serta perbaikan dan diperlukan pula penyeliaan (supervisi) dari yang sudah memiliki kualifikasi tersebut, jadi memerlukan waktu.

Lalu, apa parameter utama sehingga seseorang bisa disebut “guru profesional”?

Menurutku, parameter utamanya adalah apakah sang murid menyenangi pelajaran yang diberikan guru tersebut. Jika murid sudah senang, sesulit apapun pelajaran yang diberikan, akan dengan nyaman mereka terima dan mereka cerna serta kuasai.

Baik, Mas Nanang (nama panggilan Pak Rizali). Menurut Anda, bagaimana kondisi riil guru di Indonesia hari ini dalam konteks isu “profesionalisme guru”?

Kondisi riil saat ini buruk. Dari segi kementrian pendidikan nasional Tahun 2004, sebelum dilaksanakan sertifikasi, secara umum lebih dari 50% guru Sekolah Dasar tidak layak mengajar, tingkat SMP lebih baik sekitar 48%, sedangkan SLTA sekitar hampir 40%. Inipun hanya diukur dari formalitas ijazah yang mereka miliki yang dalam UU Sisdiknas harus S1. Ketika dites kemampuan secara langsung, setahu saya, gambarannya lebih buruk. Saya lupa datanya, sehingga konon, karena kondisi itu, pemerintah dan dewan khawatir sertifikasi melalui tes langsung guru lebih dari 50% tidak lulus, cara portofolio akhirnya diambil, selain biaya tes tersebut jauh lebih murah.

Sejatinya, apa masalah utama guru di Indonesia?

Dari berbagai pengalaman dan pendapat beberapa teman pakar yg bergelut dengan guru, bahkan ada orang asing yang berkutat urusan guru di Indonesia, mereka mengatakan guru Indonesia sangat rendah kebanggaannya menjadi guru (extreemly low self esteem). Jadi, bagaimana akan bagus dalam mengajar jika tidak bangga. Teman-teman sering mengejek, seorang guru jika mengenalkan diri selalu tidak pede “saya membantu mengajar di sekolah anu..” dengan suara hampir tidak terdengar “ooo Guru..!” ujar yang bertanya “betul pak… “ mereka menjawab sambil tersenyum malu. Lain sekali jika seorang dokter, insinyur atau akuntan, mereka akan mengenalkan diri dan tempat bekerjanya dengan gagah dan pede.

Bagaimana cara membenahinya?

Ini masalah dalam diri guru, tidak mudah dan butuh waktu yg panjang. Yang paling mudah adalah dengan cara memuliakan mereka kembali. Mengapa memuliakan, karena kita sendiri sudah memberi konotasi yg selalu buruk kepada guru, apakah kalimat “menggurui” itu baik, buruk bukan? Saya selalu protes jika kalimat ini digunakan. Bagaimana tidak, jika gurunya mulia, bukankah digurui itu menjadi bagus? Nah, itu hal yang kecil tapi penting. Cara lain dan lebih mudah adalah memberi imbalan yang lebih layak kepada guru, sehingga pekerjaan mulia ini menarik minat lulusan SMA terbaik dan bermoral baik. Bagaimana mereka akan tertarik jika gaji guru masih banyak yg di bawah upah minimum regional dalam arti disamakan dengan buruh kasar yg bekerja umumnya hanya menggunakan otot, guru bekerja menggunakan otak dan kepribadiannya.

Untuk menjadikan dirinya menjadi profesional, seorang guru harus ditemani, karena perasaan tidak percaya diri itu seringkali menghambat mereka untuk maju. Misalnya, seorang guru yang ingin belajar matematika dan dia tahu ada dosen matematika yang baik di ITB atau UI, sangat sering mereka enggan untuk berkunjung ke perguruan tinggi mapan itu, karena minder. Oleh sebab itu, menemani guru untuk maju diperlukan.

Dari sisi kebijakan, apa tanggungjawab negara untuk mendorong guru menjadi profesional itu telah maksimal?

Dibilang maksimal sih belum, tetapi sudah sangat bagus. Cobalah tengok, profesi mana yang demikian dibantu oleh pemerintah, paramedik dan dokter saja yang juga penting tidak sehebat itu, tetapi dalam pelaksanaan masih sangat lemah monitoring dan evaluasinya. Saya salut kementrian pendidikan nasional membentuk tim independen monitoring dan evaluasi sertifikasi guru, namun ternyata tim ini hanya berjalan selama dua tahun, sesudah itu saya tidak tahu nasibnya. Meskipun struktur tim ini masuk dalam Kepmendiknas, tetapi setahu saya tidak ada mata anggaran khusus, sehingga kerja tim menjadi setengah-setengah. Jika ada anggaran cukup, kerja menjadi bagus. Jika tidak, ya, bagaimana akan bagus. Lha, seharusnya semua provinsi ditinjau, ternyata akhirnya hanya provinsi sample saja.

Keseriusan lain adalah, fungsi yang mengurusi guru yang sebelumnya hanya setingkat kasubdit dengan dipimpin oleh pegawai eselon-3, akhirnya dalam tempo kurang dari 10 tahun berubah menjadi Direktorat Jenderal dengan pimpinan seorang eselon-1. Tetapi setahu saya, kedirjenan ini akan dilikuidasi kembali, entah kenapa dan saya nilai ini adalah sebuah kemunduran, paling tidak dari sisi birokrasi pengurusan guru. Izzah guru kembali melorot, karena konon nanti hanya akan diurus oleh eselon-3.

Bagaimana dengan kebijakan sertifikasi guru? Apakah berdampak bagi peningkatan profesionalisme guru?

Sertifikasi tentu tidak serta-merta berdampak kepada peningkatan profesionalitas, tetapi sertifikasi itu setidaknya mampu menyaring guru yang paling buruk. Kenapa saya katakan paling buruk, karena sertifikasi portofolio umumnya meluluskan gurunya setelah mengikuti Diklat profesi yang minimal 60 jam itu. Artinya, kurang dari 5% guru yang tidak lulus. Jika kita pake logika linier, artinya sesudah lulus sertifikasi mereka certified teacher, dong, dan profesional dong? Tetapi, faktanya masih tidak. Menurut saya, sulitlah jika sertifikator (LPTK) juga tempat di mana guru itu dididik, kecuali menggunakan metode seperti pendidikan dokter. Setahu saya, tahun ini akan dimulai pendidikan profesi guru yang mencontek pola pendidikan dokter tersebut, tetapi yakinkah Sampeyan mereka akan menjadi guru profesional jika yang mengajar bukan guru profesional, tetapi profesor-profesor yang lebih menguasai ilmu kependidikan daripada praktek guru? Di pendidikan dokter (co-ass) sarjana medis dididik oleh dokter best practice dan mereka masuk semua bagian dan harus lulus bagian tersebut sebelum dilantik sebagai dokter.

Terakhir, apa saran Bapak terhadap guru sebagai profesi, terutama bagi mereka para guru yang tinggal di daerah?

Saran saya, terimalah profesi ini sebagai amanah dan yakinlah bahwa menjadi guru itu setingkat dibawah para Nabi. Bagaimana tidak, bukankah fisika itu hukum alam? Dan itu adalah firman Tuhan di alam? Nah, jika para Nabi menyampaikan risalah langsung dari langit, guru menyampaikannya secara tidak langsung. Saya sering katakan kepada para guru “Sekali Anda transaksional dalam mengajar, maksudnya berpikir dibayar berapa ketika mengajar, maka akan hilanglah nur dari ilmu yg Anda sampaikan. Murid akan tetap pandai dan hebat, tetapi jangan berharap barokah dari ilmu yang disampaikan itu…” Nah, jika menjadi penerus para Nabi, mengapa menjadi tidak pede? Lalu bagaimana untuk hidup? Di sinilah pentingnya untuk yakin bahwa, ketika menjadi guru yang benar (baca profesional), rejeki dari-Nya pasti tersedia, kalau Anda tidak yakin, saya sarankan berubah profesi saja, karena pelan tapi pasti akan mengotori profesi yang sangat mulia ini.

Related posts:

  1. Pendidikan Guru untuk Mencerdaskan Bangsa Oleh Ahmad Rizali PENDAHULUAN 80 Tahun yang lalu anak bangsa...
  2. SERTIFIKASI GURU TIDAK MAMPU MENINGKATKAN MUTU GURU? Sekitar 200 ribu guru sejak Tahun 2006 hingga akhir 2007...
  3. Guru Komandan Tempur, Guru Narasumber dan Guru Fasilitator Manusia berjenis mental jongos (postingku sebelumnya), hanya bisa dipimpin oleh...
  4. Tim Monev Pantau Sertifikasi Guru Jatim Pelaksanaan sertifikasi guru di Jatim akan dievaluasi tim monitoring dan...
  5. Ketika Anakku Tidak Naik Kelas (2) Hari sabtu pekan lalu, saya diundang oleh SMA dimana maman,...

No Responses to "MEMPERTANYAKAN KEMBALI PROFESIONALISME GURU"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...