
Ilustrasi: Odol
“Tolong belikan aku celana Levis dan jangan lupa belikan aku Odol ya…”
” Premium atau Pertamax pak ?”
” Coca Cola dingin i saat berbuka puasa sungguh nikmat..”
Levis, Odol, Premium, Pertamax dan CocaCola itu bukanlah hakikat barangnya. Elvis itu hakikat barangnya adalah celana dari bahan kanvas biru, sedangkan Odol adalah tapal gigi. Premium itu bensin atau gasoline dan pertamax adalah bensin dengan mutu lebih baik dari Premium. Cocacola ? semua juga tau itu adalah minuman ringan.
Lantas mengapa merk yang di tempelkan kepada semua barang itu sanggup menggantikan hakikat barangnya sendiri ? Kalau anda sebut Levis, maka nyaris semua celana dengan bahan kanvas biru disebut itu. meskipun tapal gigi kita bermerk pepsodent, tetap saja kita menggosok gigi pake Odol.
Seorang pakar Merk yang terkenal bercerita ketika dia ditanya bosnya, apakah yang dijual oleh Nike ? ketika dijawab “Sepatu..!” disalahkan. baju Olahraga, juga disalahkan, alat olahraga, juga salah. jawaban yang benar, Nike menjual Heroes, menjual para pahlawan. Pahlawan Bolabasket-Michel Jordan, pahlawan Golf Tiger Wood dan pahlawan lain, seperti yang terbaru CR9 di bidang Sepakbola.
Ketika Nike ditawari teknologi luar angkasa oleh NASA untuk bantalan sepatu Olahraga, Reebok dan Puma juga ditawari, tetapi NIKE yang ambil dan langsung mengamati Michel Jordan dan menciptakan logo lompatan Michel Jordan dan anda kenal Just Do It ! nya Nike itu ? Konon adalah ucapan seorang nenek yg merespon omongan seorang bocah ketika usai menonton Michel Jordan dan berkata “Grandma, I wanna be like him…”, dijawab “Well, Just Do It !…..” Ucapan itu, didengar oleh advertising advisor dan dijadikan Tagline Nike.
Nike juga menjual sepatu disenatero jagat dengan membuat impresi juara. Setiap toko besar Nike, selalu dirancang sesuai kepribadian Hero-nya. Jordan, Tigerwood, Andree Agassi, Christiano Ronaldo dipajang di setiap toko menjual produk Nike. Para Hero itu membuat impresi itu menjadi sebuah pencerahan bahkan kata Kafi seperti sebuah “pertobatan” akan sebuah produk yang dijual.
Merk itu seperti agama ! Ujar Kafi, hakikat merk adalah pada ide merk atau Brand Idea. Jika Nike membuat hakikat merknya adalah Hero, maka Kodak menciptakan ide merk sebagai Memori, Disney sebagai Sulap, Magic !! dan anda tau apakah ide merk dari Marlboro ketika Iklan super besar mereka muncul di Billboard dan menggambarkan bentang alam padang rumput Amerika yang luas dan indah dan di sana berlarian kuda liar yang digembalakan oleh seorang Cowboy ? Atau iklan film di TV tentang kehebatan seorang petualang yang menunggang jeep, balon, mendaki gunung dlsb ?
Karena merk itu agama dan di agama ada hakikat, diperlukan cara menggapai tempat yang ingin dituju, atau makrifatnya. Disinilah Brand Strategi diperlukan. Konon teori yang termudah dalam mencari Brand Strategi yang sungguh mirip dengan Tarekatnya Brand Idea adalah proses membentuk impresi dengan cara mendekatkan, familiarity dari Ide Brand itu. Sudahkah kita familiar dan terimpresi dengan si Cowboy di padang rumput Amerika itu ? Jika sudah, proses berikutnya adalah menjadikannya sebuah pencerahan atau enlightenment atau kesetrum tegangan tinggi.
Nike memberi impresi dan kedekatan dengan slogan JUST DO IT dan memberi pencerahan bahwa, ternyata ada manusia yang mampu melompat (dengan sepatu Nike) seperti Michel Jordan, atau bermain tanpa pernah kalah seperti Tigerwood dan manusia dengan gocekan dan kecepatan seperti Christiano Ronaldo. Calon pembeli dan buan pembeli terpana dan tercerahkan, enlightened !!
Jika Microsoft punya Nabi utama si BillGate dan melalui nabinya itu menjalankan proses impresi dan pencerahan, maka Nike menggunakan banyak Nabi untuk mendeliver ke HERO-an itu kepada calon pembeli. Ketika sang Hero bermasalah, seperti Tigerwood, maka dengan mudah Nike menyingkirkannya, karena sang hero harus selalu prima. Dengan mendeliver ke HERO-an itu, calon pembeli akan segera menjadi loyalis dari jualan yang sudah dikemas menjadi transenden itu dan satu langkah lagi menjadi aktivis yang akan menyampaikan nuansa keHEROan itu kepada sekelilingnya. Itulah makrifat !!
Bayangkan jika ide merk itu adalah sebuah kejahatan, seperti teror “pembom bunuh diri” yang dikemas menjadi “jihad fisabilillah” dan pasti masuk Surga dengan janji dikelilingi oleh bidadari ? Dibentuk Impresi, dipromosikan dalam berbagai media dan terjadilah berbagai pencerahan-pencerahan bahwa itulah the best stair to heaven, bukankah akan muncul activist-activist baru yang sangat loyal kepada ide itu ?
Merk itu Tuhan, jadi berhati-hatilah mengelola Tuhan, karena bisa dengan cepat merusak dan sebaliknya akan dengan cepat pula memperbaiki, pilih mana ?
salam
Jakarta 12 Agt 2010
No related posts.