Meski dalam posting terdahulu pernah kusampaikan kegundahanku atas semangat yg berlebihan dari saudara sesama untuk menggaungkan syiar dengan menyetel loud speaker di menara mesjid sekeras kerasnya 5 kali sehari, ternyata aku harus bersyukur. Masjid di RW tetangga ternyata lebih “provokating”, dalam bulan ramadhan seperti ini melaui pengeras suara masjid mereka meneriakkan “sahur !!….” berkali kali pada jam 02.30 tengah malam, bayangkan kagetnya jika berada di dekatnya.
Aku merindukan elusan merdu mendayu tarhim subuh seperti yg sudah ratusan tahun dikumandangkan masjid Ampel. Suara shalawat itu terasa ngelangut mengelus hati yg mengeras, kadang hilang dan muncul “Asholatu wassalamualaik….” atau suara murotal alQuran dari pembaca dari mesir yg hingga saat ini masih disetel di masjid Istiqlal “fabiayialaa irabbikumatukadziba…. “.
Murrotal dan Sholawat itu terasa menonjolkan Rahman dan Rahim sang khalik daripada kedahsyataNya yg nggegirisi. Di sana terasa nuansa kedamaian surga yg membuat kita menangis karena rindu dan merasa belum tentu akan sampai di sana.
Di kampungku saat ini sedang tren murrotal dengan nada tinggi dan datar serta cepat dan bernuansa menteror hati kita dg nuansa neraka yg naudzubillah minzalik mengerikan itu. Perasaanku terganggu ketika murrotal ini terus menerus dikumandangkan, karena aku merasa nuansa damai dan rahman serta rahim itu terkikis, yg ada adalah ketergesaan dan berakhir dengan hukuman kengerian.
Aku senang mendengar suara ibuku mengaji dikala aku masih bocah dan tiduran di sajadahku di samping beliau. Suara yg menenangkan itu selalu membuatku sangat damai dan tertidur nyenyak. Entahlah apa jadinya jika saat itu ibuku melantunkan ayat suci itu dengan nada yg tergesa itu.
Seorang teman aktivis gerakan pernah berkata bahwa style membaca ayat suci memang dipengaruhi geografi dan budaya serta kondisi si pembaca. Nada yg ngeri ngeri tadi biasanya dibaca oleh mereka yg tinggal di daerah yg bergolak. Pantes saja bacaan dari mesir lbh cocok buatku, manusia di Indonesia yg damai ini.
Wallahualam
Depok, 28 sept 2010
18 Ramadhan 1431
wasalam
Ahmad Rizali
http://ahmadrizali.com
Related posts:
- Suara Pembaruan: SBI Cermin Rendah Diri? Sumber: http://epaper.suarapembaruan.com/?iid=35922&startpage=4...