
Gambar: Ilustrasi
Sarung pelekat merah bergaris bersilang hitam bekas tahun kemarin yg misih mulus, baju koko putih obral yg kubeli menjelang ramadhan plus songkok beledu hitam bermotif buatan gresik dan berkasut hommyped yg kemarin kucuci bersih seperti terlihat baru, semua menemaniku melangkah menuju masjid amal bakti muslimin pancasila di sudut blok rumahku.
Sebetulnya pengin juga menyelempangkan sorban bermotif yasser arafat dan menggegam untaian tasbih serta kucuran minyak wangi dari mekah ke telapak tangan dan bajuku agar penampilan berlebaran tak kalah dengan almukarom almukhtarom KH. Drs. Amanudin Almabruri, imam besar masjid itu. Apa mau dikata, tak ada semua barang simbol kesalehan itu.
Aku tiba ketika masjid baru terisi separo, sengaja istriku kutinggal karena dia sedang sibuk ngudak udak ketiga anaknya agar segera siap shalat idul fitri.
Sejak aku masuk hingga duduk, tercium wangi melati semerbak. Aku suka wangi bunga ini dan kami punya pohonnya yg saat berbunga aromanya menjadikan kamar tidur kami bak kamar pengantin.
Kyai Al Mabruri menyalamiku sambil tersenyum berwibawa. Sorban putihnya besar membelit kopiah putih dan jubah putihnya. Sarung plekatnya juga putih sehingga dari kejauhan bak pangeran diponegoro yg gambarnya kukenal di dinding sekolah saat bocah. Aku membayangkan beliau jg sedang menunggang kuda putih besar dg kedua kaki depan diangkat sambil meringkik.
Sepanjang acara yg diisi dengan berbagai sambutan itu, wangi melati menyergap hidungku dengan sesekali hilang ditingkahi parfumku yg konon bermerek dan mahal harganya. Aroma parfumku hilang seketika saat wangi melati itu menyergap.
Entah apa yg diomongkan khatib ketika sholat usai, karena aku lebih asyik menikmati wangi melati sambil memejamkan mata dan membayangkan cerita pendek sastrawan sufi Danarto. Aku membayangkan, alangkah senangnya jika wangi melati ini mengikutiku kemanapun aku pergi. Saat pulang ke rumah, mengunjungi tetangga, sanak saudara, handai taulan dan semuanya merasakan wangi itu menyergap saat bersalaman dan bercengerama.
Alangkah riangnya hati istriku ketika bocah bocah kecil yg bersilaturahim dan berharap angpau lebaran, saat menerima uangnya ada yg berbisik bahkan berteriak riang “Tante rumahnya nyaman dan bau wangi melati….”.
Aku terkesiap ketika khatib sudah bershalawat kepada kanjeng nabi allahuma shalli wa salim wabarik alaih wa ala ahlihi…. dan wangi melati itu kembali menyergap hidungku. Mungkin wangi itu berasal dari sajadah kakek disisi kiriku yg saat sholat sudah sulit menekuk kakinya, tetapi tetap tersenyum. Atau dari tubuhnya yg bbrp hari kemarin memperoleh lailatul qadr dan Allah memberinya wangi melati sebelum nanti memberinya wewangian surga.
1 syawal 1431 H
Depok
wasalam
Ahmad Rizali
http://ahmadrizali.com
Related posts:
- Mudik Lebaran Thn 2007: Catatan Kecil (2) Desa Gubuk Klakah yg makmur dan Coban Pelangi Meski di...
- Mudik Lebaran Thn 2007:Sebuah Catatan Kecil (1) Depok-Cirebon dalam 3 jam Sesudah menghitung macetnya arus mudik Lebaran,...