Tajuk Koran Tempo jumat (18/2/2011) memaparkan trend kekurangan pangan dunia dan dampaknya, beberapa kali berita seperti dan yg sejenis muncul di koran. Detik.com mewartakan demo ribuan warga Bolivia di ibukotanya LaPaz karena harga pangan meninggi tak terjangkau.
Ketika ke negeri Jiran, seorang pejabat tinggi Indonesia yg karena urusan trend menakutkan itu harus melakukan kunjungan ke pengembangan pertanian ke sana dan terperanjat dgn cara jirannya, saya langsung bereaksi “kemana aja ente haree genee, padahal kan sudah tugas ente ?” Meski begitu, Koran yg sama mewartakan dengan bangga petinggi urusan pangan berkata “rilis WB tentang krisis pangan agak telat, kami sdh siap2 6 bulan lalu (dgn impor)”.
Studi dari PISA dan TIMSS sudah menunjukkan rendahnya mutu persekolahan kita, meski trend ada kemajuan yg sayangnya disebut sebagai statistically not significant. Trend yg mengerikan itu mendorong kita berfikir, betulkah anak2 kita mampu “hidup” di sisa abad ini, pdhl kemampuan dasar mereka disebutkan sangat tidak mungkin ?
Tadi pagi saya langsung mengubah channel RCTI yg menayangkan balita busung lapar di Tarakan Kaltim, sosok bayi yg seperti mumi hidup itu menangis, saya yg sdg sarapan tersedak dan termangu mangu. Koran Tempo juga mewartakan trend krisis pangan dunia, krisis minyak sdg menjelang pula.
Lantas apa yg sedang dikerjakan wakil kita di parlemen ? Mereka sibuk menyelamatkan diri dari kejaran KPK bahkan ada yg mengancam mengebiri KPK yg dianggap superbodi. Lainnya entah ngapain, mungkin sedang berbincang tentang trend mobil baru dan kenikmatan lainnya.
Tak heran jika ada bisik2 tentang revolusi, bahkan ada yg teriak terang2an “….. atau revolusi”.
Entah karena media, padahal saya hanya nonton TV saat pagi, tak langganan Koran kecuali Ahad dan hanya sesekali ngintip berita di internet, rasanya negeri ini kok sedang memburuk, padahal diukur secara ekonomi semakin tajir. Jika dulu, income negara 85 % untuk bayar utang, 10 thn kemudian, hanya 26 % yg dipake bayar utang.
Kupikir kita memang tidak serius ngurus negara, dan bisa jadi jika terus seperti ini, asal2an sekaligus bodoh. Bayangkan hasilnya, asal2an saja sudah begini, apalagi si bodoh yg asal2an. Tetapi, harapan selalu ada untuk mereka yg tetap ingin baik dan berbuat baik.
22 Feb 2011
wasalam
Ahmad Rizali
http://ahmadrizali.com
Related posts:
- KRL Jadebotabek: tidak semakin bermutu KRL ekspres yg seharusnya berangkat sblm jam 08.00 dari pondok...
- Merk atau Brand “Tolong belikan aku celana Levis dan jangan lupa belikan aku...
- Koran Tempo: Buta Matematika dan Ujian Nasional ...
