Jaman saya dan cak Satria bersekolah di SD ada pensil konvensional yg kayunya halus berbau wangi dan berwarna warni, hanya murid anak orangkaya yg punya pensil ini, saya kadangkala meminjam milik teman yg ayahnya pejabat di tangsi, hanya untuk menciumi bau wangi itu.
Jaman itu, satu pensil dipelihara sampai tak bisa dipakai karena habis diraut, itupun ujungnya sdh disambung dengan kertas untuk memegang saat menulis. Jika karet penghapus habis, kami liliti ujung pensil dengan karet gelang. Untuk murid bengal seperti cak Satria, biasanya menghapus pake ludah dan digosok2 hingga hitam kusam lantas karena joroknya, biasanya dihukum bu guru.
Pensil wangi itu bermerk Kirin, mungkin buatan jepang dan hanya ada satu jenis, belum kami kenal jenis H dan B yg saat ini wajib dipake jika ingin lulus UN.
Buku tulisnya merk “Leces” yg ternyata pabrik kertas di ujung timur jawa sana. Buku tulis ini ada yg isi 12 lembar dan 40 lembar dan keduanya sama bersampul biru agak kusam. Jangan coba coba menulisi kertas dibuku ini dengan Vulpen isi tinta cair yg bisa disedot dari “bak” nya, karena tulisan akan “mblobor” atau tintanya melebar kemana mana. Seringkali, karena demikian buruknya mutu kertas, tidak bisa ditulisi di kedua sisinya.
Sampul biru tadi, seringkali tak terlihat karena disampul kembali dengan kertas coklat, ada yg sedikit mengkilat, tetapi ada yg buram. Saya sering menyampulnya, terutama buku bacaan dengan kertas bekas kantung semen, keren !! Tak terbayang dibenak kami saat itu ada sampul buku bergambar superhero bahenol dan berbadan kekar, meski komik “Wiro si Anak Rimba” sdh menjadi bacaan wajib.
Seingatku, SD tak diuji secara nasional dan di SMPN satu2nya disebuah kota kecil di Kalsel, Banjarbaru, dimana saya sekolah, pelajaran aljabarku betul2 mendasar. Saat geometri, menggambar segitiga tak boleh ada ujung garis tersisa dan kurang, jika masih begitu, bu guru Tuti akan menjewer kami, beliau guru killer yg mampu membuat murid gemetar saat memeriksa tugas dan bawaan kami ke sekolah. Meski killer, tak ada murid dan ortu yg melapor ke polisi, mungkin karena kak Seto belum terkenal dan belum ada konvensi hak anak.
Banjarbaru masih dikelilingi hutan dan perdu dan SMPN ku masih dikelilingi sawah yg luas, dimana saat istirahat kami murid lelaki semburat dari kelas dan adu cepat berdiri berjajar di pematang sawah untuk kencing sambil melongok ikan gabus diantara batang padi.
wasalam
Ahmad Rizali
http://ahmadrizali.com
No related posts.