Hari ini saya bukan pemuda lagi, tetapi manusia dewasa menjelang senja, sehingga semangatku sudah tak semenggelora pemuda yg berusia likuran dan tigapuluhan yg saat menjelang deklarasi kemerdekaan mereka tidak sabar barang seharipun menundanya dan menculik dwi tunggal karena tidak ingin menurut mereka kemerdekaan hadiah dari Jepang, mereka ingin kemerdekaan itu buah revolusi romantik.
Saya juga bukan pemuda Hatta yang lantang dan bernyali berpidato “Indonesia Merdeka” di pengadilan negeri belanda atau pemuda Soekarno yg berpidato “Indonesia Menggugat” di pengadilan Hindia Belanda, apalagi pemuda Tan Malaka yg dalam persembunyiannya menulis “Madilog” yg menggegerkan itu. Saya juga bukan M. Natsir, tokoh santun bersahaja pengisi awal kemerdekaan yg menulis “Kapita Selekta” saat usia 24 Tahun itu.
Seniman Arifin C. Noor menulis naskah drama “Sumur Tanpa Dasar” di usia 17 Tahun dan Chairil Anwar mati diusia belum 30 Tahun. Ternyata Soeharto memimpin operasi Mandala dalam usia tigapuluhan dan menjadi presiden RI di awal 40an.
Mereka sedikit dari banyak pemuda hebat bangsa ini yang lahir, tumbuh dan menjadi manusia dewasa yg hebat karena tempaan jamannya, bukan karena sistem pendidikan bangsanya.
Saya haqqul yaqin, ribuan pemuda dahsyat di seantero nusantara ini yg siap menggantikan tokoh itu untuk meneruskan cita cita mereka, dengan caranya sendiri. Ada yg berdagang, menjadi guru, profesional, penggiat LSM bahkan politikus hingga sekedar pegawai negeri sipil dan militer berpangkat rendahan.
Meski seringkali mereka sulit menemukan mentor, seperti Tjokro untuk Soekarno atau Hatta untuk Daoed Joesoef atau Natsir untuk Yusril Ihza, tetapi kerasnya jaman akan menempa mereka menjadi liat dan petarung handal untuk bangsanya.
Aku dimana ? Aku adalah noktah kecil jutaan dewasa menjelang usia senja yg hanya bisa menyiapkan mereka jalan, menemani mereka menyusuri pahit getir pergulatan menuju kedewasaan dan mendorong mereka berkarya gemilang.
Aku adalah jutaan dewasa yg berharap barisan pemuda itu membuang jauh kebejatan kakak dan tetuanya, menelan bulat serta mempraktekan kemuliaan mereka.
Depok 28 Oktober 2011
wasalam
Ahmad Rizali
http://ahmadrizali.com
No related posts.