AhmadRizali.Com

01 Jan, 2008

Berharap Guru menjadi Profesional dengan Cara Instan, Bisakah?

Posted by: Ahmad Rizali In: Guru| Pendidikan

Juraganku kaget ketika kukatakan bahwa program yg kubuat untuk memperbaiki mutu akan berkelanjutan jika dijaga selama sedikitnya 12 Tahun, mengapa begitu lama ? Karena kondisi awal penggeraknya, atau gurunya memang harus ditemani terus selama itu, karena gurunya masih mengindap sindroma mentalitas jongos, maaf para guru jangan tersinggung. .. karena guru adalah bagian dari masyarakat dan masyarakat kitapun juga punya sindroma seperti itu.

Coba telaah, seorang jongos tidak akan bekerja jika tidak diperintah oleh juragannya dan seorang jongos selalu tidak punya pilihan kecuali bekerja sebagaimana yg diperintahkan dan seorang jongos selalu merasa ditindas oleh juragan dan merasa kurang dalam segalanya dan terakhir, seorang jongos jika dibebaskan melakukan sesuatu dan menjadi bos akan bingung dan seringkali kembali lagi untuk menjadi jongos. Dalam jagad pewayangan seringkali diledek dgn lakon Petruk Dadi Ratu. Nah, coba telaah bagaimana sikap guru kita terutama yg PNS, mungkin ada pengecualian, tetapi jika kita telaah guru PNS di seluruh Indonesia, pastilah setuju dengan pendapatku. Karena manusia jenis ini terbanyak, maka secara statistik dalam populasi gurupun, jenis inilah yang terbanyak.

Ada sebagian manusia yang sudah merasa bebas dan memiliki euforia manusia bebas, apapun boleh dilakukan dan selalu menuntut haknya dahulu, padahal kewajibannya dilalaikan dan selalu bilang, tunaikan dulu hakku !! Manusia jenis ini sibuk menuntut hak dan tidak punya waktu untuk mengembangkan diri, sehingga seringkali hanya sibuk dalam pergerakan menuntut hak, tetapi belum punya posisi tawar dengan ketrampilan profesional yg tinggi. Nah, populasi guru seperti inipun jauh lebih sedikit, tetapi karena sangat vokal dan kritis, seringkali sangat ditakuti oleh juragan yang tidak canggih. Juragan jenis ini lebih suka guru jenis pertama, padahal jauh lebih berbahaya.

Jenis terakhir adalah manusia merdeka, tidak terikat apapun dan biasanya berfikir untuk maju dan jika tidak mampu, selalu mencari tambahan ilmu untuk bisa maju. Biasanya manusia jenis ini jarang protes, karena sibuk melakukan sesuatu. Nah, berapa banyak populasi guru jenis ini ? Yang seringkali memiliki posisi tawar yang tinggi dan berani meninggalkan pekerjaannya mengikuti visinya, meskipun sedang tidak bertengkar dengan juragannya, apalagi bertengkar.

Jika dalam sebuah sekolah, mayoritas gurunya berjenis pertama, maka sekolah itu ibarat sebuah pot dengan tanah berpasir tanpa pupuk dan gurunya adalah tanamannya. Pupuklah (dilatih) tanah berpasir itu, sudah bisa dipastikan tanaman tak akan tumbuh (terampil) apalagi menjadi pembelajar. Jika dahulu benihnya baik, maka tanahnya harus dipupuk dahulu, agar benih mampu tumbuh menjadi tanaman yang jarang disiangi dan disiramipun (mentalitas jenis pertama) pada saatnya menjadi dewasa dan siap berkembang kapanpun (mentalitas jenis ketiga). Pelatihan motivasi meski berkali kali, tidak cukup, jika dalam keseharian tidak pernah dimotivasi.

Jadi, omong kosong besar jika ada sebuah program pelatihan untuk Guru PNS yang sudah karatan (mentalitas jenis pertama) yang tiba tiba mampu menjadikan mereka pembelajar (meloncat ke jenis ketiga), tetapi dilaksanakan hanya dijejalkan sepekan seumur hidup. Karena pelatihan itu ibarat memberi pupuk ke tanah keras begitu saja, tanpa diolah dan digemburkan serta disiram dan disiangi dahulu.

Tetapi umumnya kita berprasangka bahwa guru selalu siap dilatih ketrampilannya, tanpa harus disiapkan dahulu mentalitasnya hingga siap berlatih dan karena berprasangka guru sudah siap, maka selalu yakin bahwa dengan pelatihan, semuanya akan berjalan dengan baik. Padahal, meskipun guru siap berlatih dan sudah dilatih, supervisi (menyiangi dan menyirami serta memberi pupuk) harus dilakukan berkelanjutan. Dalam hal inilah perbedaan perusahaan swasta mapan dengan sebuah sekolah umumnya dalam mengurusi manusia pekerjanya.

Depok
1/1/08
Nanang

Related posts:

  1. Guru Komandan Tempur, Guru Narasumber dan Guru Fasilitator Manusia berjenis mental jongos (postingku sebelumnya), hanya bisa dipimpin oleh...

3 Responses to "Berharap Guru menjadi Profesional dengan Cara Instan, Bisakah?"

1 | M Faizi

April 7th, 2009 at 8:24 am

Avatar

Pesan artikel ini, satu, bungkus, Mas!!

2 | Nanang

April 7th, 2009 at 9:05 am

Avatar

Tentu !! monggo dibungkus mas ….

3 | v.yulianto

April 20th, 2009 at 8:45 am

Avatar

kayaknya gak mungkin dehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.

Comment Form


  • IKA: Memang sedih Pak. Dua minggu yang lalu saya kepengen naik KRL ekonomi dari Gondangdia ke UI. ternyata keretanya lagi masalah. Kita disuruh ikut kereta
  • Ahmad Rizali: saya sdh kunjungi blog yg anda sarankan, menarik sekali. Sayang sekali, anda melakukan hal yg dahsyat, tetapi tidak mengenalkan diri, identitas anda t
  • Ahmad Rizali: Terimakasih Hasrul kalian dong yg harus terus menulis dan berkarya. You are what you write kata orang bijak. Write mungkin bisa diganti dengan progra

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...