09 Oct, 2008
CATATAN MUDIK 2008: Sepeda Motor Tetap Raja Jalanan
Take off dari Depok delay 30 menit lebih, seharusnya estimated time departure (ETD) kendaraan mudik ini tepat sesudah sholat subuh, Kamis 2 Oktober 2008, jam 04.45, ternyata ketika kutengok jam di dashboard sdh terbaca 05.30. Langit sudah terang, namun jalan Margonda di IdulFitri hari kedua itu masih lengang.
Tepat 05.50 LGX 1.8 EFI yang ku piloti masuk pintu Tol Lenteng Agung. Tol sangat lancar, hanya satu dua kendaraan lalu lalang, tepat 08.15, kami tersendat ngantri keluar pintu tol Cileunyi, sekitar 1 Km lebih.
Ranca Ekek Bandung dan Nagrek si Legenda Macet
Pilihan melalui rute selatan disengaja agar tidak bosan di jalan, namun ternyata pilihan itu disaat sehari sesudah Lebaran adalah salah besar !! Nyaris semua orang yg tinggal di kawasan Jawa Barat sisi Bandung hingga Ciamis mudik saat itu. Baru saja melalui ranca ekek, kami sudah terhadang macet, lalin sangat padat merayap.
Sepeda motor yang jumlahnya ribuan dan berpenumpang 2-4 kepala berbaur dengan mobil berbagai jenis, termasuk Bus Wisata dan Bus Umum, jalanan arteri nagrek baru langsung buntu. Saking lamanya mobil berhenti, ada supir Honda CRV yg tertidur saat berhenti diper3an Garur. Untunglah udara luar segar, meski matahari yang terik mulai menghangatkan kami. Entah sudah berapa puluh lagu Indonesia populer dan lagu barat yang kami setel via mp3 di dash board itu.
Untuk mengurangi konsumsi bensin dan menambah tenaga mesin, sengaja AC mobil kumatikan, apalagi saat itu udara tidak terlalu panas. Bau kopling dan rem yang terbakar berkesiuran, kupikir milikku, ternyata bukan. LGX-ku baru saja diservis reguler 160.000 Km dan semua OK.
Dua jam lebih kami terjebak di kendaraan yang mengular dan menanjak itu. Awalnya aku tergoda untuk berputar balik dan menuju Sumedang, lantas ke Cirebon. Namun ketiadaan puteran dan niat untuk pasrah saja dengan sikon membuatku terus istiqomah ikut merayap hingga rel KA dan tempat istirahat di puncak tanjakan nagrek. Sejak dari sinilah jalan mulai lancar, namun tetap saja tidak bisa melaju dengan optimum karena banyaknya sepeda motor itu.
Tepat jam 13.00, kami berhenti untuk makan siang di restoran Cibiuk, di tengah sawah menguning menjelang dipanen. Resto ini modern, lesehan dan meja mewahpun tersedia. Masjid dan toilet standar juga ada, parkir cukup luas. Kami tergiur mampir, karena pernah menikmati Resto Cibiuk di Bogor yang sekarang konon sudah berubah menjadi McD, pas di depan Hotel Pangrango 2. Untuk ukuran Resto Sunda, pelayanan cukup cepat. Nasi bakar, dan paket dengan empal gentong cukup cepat, sambal sesuai tradisi cibiuk ambil sendiri, termasuk sayur mayur. Pare rebusnya juga sangat lezat saat dicocol sambal. Jus mangga menjadi penutup.
Kami berlima membayar 150 Ribu lebih, harga yang cukup reasonable untuk ukuran kantung saat lebaran dengan pelayanan cukup prima, serta keterseddiaan masjid kecil, toilet yang bersih dan air bersih segar yang berlimpah.
Di Ciamis menjelang jam 16.00 sore, Yogya jam 23.00
Teman istriku yang tinggal di garut ketika dikabari bahwa kami terjepit di nagrek bilang, bahwa kami akan tiba di Ciamis menjelang isya’, ternyata keberuntungan beserta kami, jalanan sesudah kemacetan itu sangat lancar hingga ciamis dan kami memasuki kota itu menjelang jam 16.00, sesudah mengisi bensi penuh, Liza, istriku menggantikan mengemudi hingga memasuki wangon saat gelap, dia menyerah menyetir di malam hari, tak tahan sorotan lampu dari depan. Ternyata, sesudah ada kesulitan dan kemudahan dan kata itu yg selalu saya ucapkan kepada penumpangku sambil guyonan.
Jalur selatan sesudah Wangon sering macet karena banyaknya lintasan KA jalur selatan, jalan sering tersendat dan akhirnya kami sempatkan makan pecel lele di warung tenda milik penduduk di pinggir jalan raya sekitar Buntu-Sumpiyuh sesudah Wangon. Cukup banyak pemudik yang mampir, karena parkir di halaman tanah yg cukup luas, kami kehabisan stok makanan, kecuali nasi hangat dan ayam goreng plus lele. Bebek dan burung dara kesukaan anak sulungku ludes.
Tepat jam 20.30, dari warung pecel lele mobil kupacu kembali menuju Yogya. Meskipun jalanan lengang, namun fisik sudah lelah sehingga kurang sreg menyetir diatas kecepatan 80 Km/jam, dengan kecepatan rata2 65Km/jam kami lewati Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Purworejo menuju Wates yang sudah termasuk DIY dan tiba di Edotel Hotel di samping Gelora Kridosono, sesudah muter2 mencari alamat hotel laboratorium SMKN 6 Yogya itu.
Related posts:
- Mudik Lebaran Thn 2007:Sebuah Catatan Kecil (1) Depok-Cirebon dalam 3 jam Sesudah menghitung macetnya arus mudik Lebaran,...
- CATATAN MUDIK 2008: Hotel Laboratorium Edotel – Yogyakarta, Agak Mahal Saat IdulFitri Hotel Laboratorium Edotel-Yogyakarta, agak mahal saat IdulFitri Hotel tempat praktek...
- Mudik Lebaran Thn 2007: Catatan Kecil (2) Desa Gubuk Klakah yg makmur dan Coban Pelangi Meski di...
- “Jalur Sepeda” di Rasuna Said-Jakarta Sudah beberapa bulan ini, beberapa kali sepekan aku nggenjot sepeda...