AhmadRizali.Com

09 Oct, 2008

CATATAN MUDIK 2008: Sepeda Motor Tetap Raja Jalanan

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan| Mudik

Take off dari Depok delay 30 menit lebih, seharusnya estimated time departure (ETD) kendaraan mudik ini tepat sesudah sholat subuh, Kamis 2 Oktober 2008, jam 04.45, ternyata ketika kutengok jam di dashboard sdh terbaca 05.30. Langit sudah terang, namun jalan Margonda di IdulFitri hari kedua itu masih lengang.

Tepat 05.50 LGX 1.8 EFI yang ku piloti masuk pintu Tol Lenteng Agung. Tol sangat lancar, hanya satu dua kendaraan lalu lalang, tepat 08.15, kami tersendat ngantri keluar pintu tol Cileunyi, sekitar 1 Km lebih.

Ranca Ekek Bandung dan Nagrek si Legenda Macet

Pilihan melalui rute selatan disengaja agar tidak bosan di jalan, namun ternyata pilihan itu disaat sehari sesudah Lebaran adalah salah besar !! Nyaris semua orang yg tinggal di kawasan Jawa Barat sisi Bandung hingga Ciamis mudik saat itu. Baru saja melalui ranca ekek, kami sudah terhadang macet, lalin sangat padat merayap.

Sepeda motor yang jumlahnya ribuan dan berpenumpang 2-4 kepala berbaur dengan mobil berbagai jenis, termasuk Bus Wisata dan Bus Umum, jalanan arteri nagrek baru langsung buntu. Saking lamanya mobil berhenti, ada supir Honda CRV yg tertidur saat berhenti diper3an Garur. Untunglah udara luar segar, meski matahari yang terik mulai menghangatkan kami. Entah sudah berapa puluh lagu Indonesia populer dan lagu barat yang kami setel via mp3 di dash board itu.

Untuk mengurangi konsumsi bensin dan menambah tenaga mesin, sengaja AC mobil kumatikan, apalagi saat itu udara tidak terlalu panas. Bau kopling dan rem yang terbakar berkesiuran, kupikir milikku, ternyata bukan. LGX-ku baru saja diservis reguler 160.000 Km dan semua OK.

Dua jam lebih kami terjebak di kendaraan yang mengular dan menanjak itu. Awalnya aku tergoda untuk berputar balik dan menuju Sumedang, lantas ke Cirebon. Namun ketiadaan puteran dan niat untuk pasrah saja dengan sikon membuatku terus istiqomah ikut merayap hingga rel KA dan tempat istirahat di puncak tanjakan nagrek. Sejak dari sinilah jalan mulai lancar, namun tetap saja tidak bisa melaju dengan optimum karena banyaknya sepeda motor itu.

Tepat jam 13.00, kami berhenti untuk makan siang di restoran Cibiuk, di tengah sawah menguning menjelang dipanen. Resto ini modern, lesehan dan meja mewahpun tersedia. Masjid dan toilet standar juga ada, parkir cukup luas. Kami tergiur mampir, karena pernah menikmati Resto Cibiuk di Bogor yang sekarang konon sudah berubah menjadi McD, pas di depan Hotel Pangrango 2. Untuk ukuran Resto Sunda, pelayanan cukup cepat. Nasi bakar, dan paket dengan empal gentong cukup cepat, sambal sesuai tradisi cibiuk ambil sendiri, termasuk sayur mayur. Pare rebusnya juga sangat lezat saat dicocol sambal. Jus mangga menjadi penutup.

Kami berlima membayar 150 Ribu lebih, harga yang cukup reasonable untuk ukuran kantung saat lebaran dengan pelayanan cukup prima, serta keterseddiaan masjid kecil, toilet yang bersih dan air bersih segar yang berlimpah.

Di Ciamis menjelang jam 16.00 sore, Yogya jam 23.00

Teman istriku yang tinggal di garut ketika dikabari bahwa kami terjepit di nagrek bilang, bahwa kami akan tiba di Ciamis menjelang isya’, ternyata keberuntungan beserta kami, jalanan sesudah kemacetan itu sangat lancar hingga ciamis dan kami memasuki kota itu menjelang jam 16.00, sesudah mengisi bensi penuh, Liza, istriku menggantikan mengemudi hingga memasuki wangon saat gelap, dia menyerah menyetir di malam hari, tak tahan sorotan lampu dari depan. Ternyata, sesudah ada kesulitan dan kemudahan dan kata itu yg selalu saya ucapkan kepada penumpangku sambil guyonan.

Jalur selatan sesudah Wangon sering macet karena banyaknya lintasan KA jalur selatan, jalan sering tersendat dan akhirnya kami sempatkan makan pecel lele di warung tenda milik penduduk di pinggir jalan raya sekitar Buntu-Sumpiyuh sesudah Wangon. Cukup banyak pemudik yang mampir, karena parkir di halaman tanah yg cukup luas, kami kehabisan stok makanan, kecuali nasi hangat dan ayam goreng plus lele. Bebek dan burung dara kesukaan anak sulungku ludes.

Tepat jam 20.30, dari warung pecel lele mobil kupacu kembali menuju Yogya. Meskipun jalanan lengang, namun fisik sudah lelah sehingga kurang sreg menyetir diatas kecepatan 80 Km/jam, dengan kecepatan rata2 65Km/jam kami lewati Gombong, Kebumen, Kutoarjo, Purworejo menuju Wates yang sudah termasuk DIY dan tiba di Edotel Hotel di samping Gelora Kridosono, sesudah muter2 mencari alamat hotel laboratorium SMKN 6 Yogya itu.

Related posts:

  1. Mudik Lebaran Thn 2007:Sebuah Catatan Kecil (1) Depok-Cirebon dalam 3 jam Sesudah menghitung macetnya arus mudik Lebaran,...
  2. CATATAN MUDIK 2008: Hotel Laboratorium Edotel – Yogyakarta, Agak Mahal Saat IdulFitri Hotel Laboratorium Edotel-Yogyakarta, agak mahal saat IdulFitri Hotel tempat praktek...
  3. Mudik Lebaran Thn 2007: Catatan Kecil (2) Desa Gubuk Klakah yg makmur dan Coban Pelangi Meski di...
  4. “Jalur Sepeda” di Rasuna Said-Jakarta Sudah beberapa bulan ini, beberapa kali sepekan aku nggenjot sepeda...

2 Responses to "CATATAN MUDIK 2008: Sepeda Motor Tetap Raja Jalanan"

1 | habearin

October 19th, 2008 at 10:22 am

Avatar

luar biasa catatan perjalanannya bos!!

2 | Manajemen Edotel Kenari Yogya

June 27th, 2009 at 12:38 pm

Avatar

Terima kasih sudah membantu mencantumkan Edotel Kenari dalam blog Anda. Ada ralat sedikit, Di Kota Yogyakarta ada 2 stadion besar yakni Stadion Kridosono dan Mandala Krida. Nah,, Kami bertempat di selatan Stadion Mandala Krida… :) )
Senang bisa melayani Anda…

Comment Form


  • IKA: Memang sedih Pak. Dua minggu yang lalu saya kepengen naik KRL ekonomi dari Gondangdia ke UI. ternyata keretanya lagi masalah. Kita disuruh ikut kereta
  • Ahmad Rizali: saya sdh kunjungi blog yg anda sarankan, menarik sekali. Sayang sekali, anda melakukan hal yg dahsyat, tetapi tidak mengenalkan diri, identitas anda t
  • Ahmad Rizali: Terimakasih Hasrul kalian dong yg harus terus menulis dan berkarya. You are what you write kata orang bijak. Write mungkin bisa diganti dengan progra

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...