AhmadRizali.Com

24 Nov, 2008

Brain Drain dan Patriotisme

Posted by: Ahmad Rizali In: Patriotisme

Drain berarti dikosongkan, ada istilah drainase artinya pembuangan, brain drain arti kharafiyahnya adalah pengosongan otak. Otak siapa? Tergantung yang didrain.

Sejak puluhan tahun lalu, sudah puluhan mungkin ratusan ribu pelajar Indonesia studi di luar negeri. Sejak awal umumnya pelajar tersebut kembali ke Indonesia dan menempati posisi elit. Entah di pemerintahan, perusahaan swasta atau perdagangan besar.

Awalnya, hanya pemerintah yang mampu membiayai pelajar bersekolah ke luarnegeri, sehingga beasiswa itu menjadi ikatan agar tidak kabur ke negeri seberang. Namun, ketika Indonesia mulai makmur di jaman jayanya presiden Suharto. Banyak orangkaya Indonesia mampu membiayai anaknya ke Luarnegeri, kemana saja. Umumnya ke Australia, Singapura bahkan Amerika Serikat.

Lantas apa urusannya dengan brain drain ? Meski dengan terbukanya lapangan kerja untuk orang asing, banyak WNI dari India hingga Briton yang bekerja di Indonesia, tidak sedikit pula warga terbaik negeri ini yang bekerja di luarnegeri.

Persoalannya, jika WNA bekerja di Indonesia umumnya mereka adalah warga yg pada dasarnya mungkin tidak terpakai di negerinya. WNI yang bekerja di LN adalah mereka yang sudah dididik terbaik dengan uang rakyat dan di brain drain di sana.

Brain drain sudah terjadi sejak tingkat SLTA, murid murid cerdas dan terbaik dari beberapa SMA di Indonesia di tawari sekolah di Perguruan Tinggi di Singapura dan jika sudah lulus langsung dipekerjakan di sana dengan gaji berlimpah.

Negeri ini kekurangan manusia pintar yang mencintai negerinya dan siap bekerja keras untuknya. Pintar saja, tetapi dihela oleh egoisme dan kenyamanan pribadi, justru menyusahkan. Sebutlah warga penolak transportasi umum TransJakarta, mereka secara egois bicara tentang kegagalan moda itu tanpa sebuah solusi yang jelas.

Biasanya, murid yang pintar akan memperoleh priviles dari negara dan dididik hingga jenjang tertinggi, dengan demikian mampu pula memilih pekerjaan terbaik untuknya.

Ada yg menjadi dosen, namun karena merasa tidak bisa berkarya, apalagi penghasilannya pas pasan dan selalu membandingkan dengan kemakmuran hidupnya ketika sedang belajar di luarnegeri, maka ketika ada tawaran bekerja di luarnegeri, kaburlah mereka ke sana.

Ada teman dosen, karena PNS maka memperoleh beasiswa penuh hingga S3 ke USA, dia cemerlang nilainya straight A plus bidang teknik kimia, dia lulus terbaik dari MIT. Tak lama pulang ke Indonesia lantas kembali ke USA sudah belasan Tahun tak kedengaran beritanya.

Adapula yang lulus doktor dari Jerman sebagai ahli fisika padat, kembali ke Indonesia tidak dapat tempat di Univ-nya di Jatim, mungkin bosan menggerutu akhirnya dia terima tawaran posdoc di Univnya dan sdh belasan tahun pula tidak kembali lagi.

Cerita itu bisa diperpanjang dengan “kaburnya” pakar2 aeronautika kita, bankir dan ahli perminyakan dan gas serta ahli lain. Alih alih ikut memperbaiki negeri dengan menjadi apasaja, termasuk mungkin menjadi politikus yang saat ini diisi oleh manusia bebal dan bejat, mereka lebih suka mengabdi di negeri asing.

Mungkin betul, buat apa karatan dan hancur di negeri sendiri karena diri dan keluarganya tidak diurusi oleh negara, sementara begitu banyak kesempatan yang ditawarkan di luarnegeri sana, bersih tanpa KKN pula dan bisa mengirimkan uang ke tanah air untuk menambah devisa.

Aku hanya masygul, jika putra/i bangsa terbaik memburuh ke luarnegeri dan yang tersisa adalah mereka yang bodoh serta bejat dan bebal pula, apalagi pelan tapi pasti dipimpin oleh WNA, entah di dunia bisnis, konsultan atau pendidikan, lantas mau kemana negeri ini ?

Aku menghargai spirit Gunawan Wibisono yang dengan keyakinannya akan kebenaran hijrah dari Alengka bergabung denga Sri Rama dan dengan kesadaran mengajak negeri asing itu menghancurkan tiran di negerinya.

Tetapi entahlah, aku lebih suka mempersonifikasi diri seperti Kumbokarno yang tak ingin terlibat kebejatan di negerinya, namun juga tidak mengundang pasukan asing masuk. Kumbokarno berjuang untuk negerinya, seburuk apapun negeri itu.

Seorang Kwik atau Rizal Ramli rasanya jauh lebih terhormat dan patriotik daripada tokoh yang menjelek jelekkan wajah negerinya, rumahnya lahir, tumbuh dan menghirup udara dan kemudian menjadi corong suara bangsa lain di sudut rumah Indonesia ini.

Semua itu terjadi ketika brain drain dengan lancar terjadi dan akan terus terjadi ketika kita tidak berupaya menyetop drain itu dengan cara paling tidak berteriak “Jika kalian pergi, siapa yg akan menjadi pimpinan di negeri ini?” atau jika masih degil juga, mengancam “Awas jika kalian kembali ke sini ketika negeri kita sudah makmur…!!”

Mungkin aku sebal karena tidak mampu mengalahkan kata hatiku, mungkin juga salah dalam berfikir dan berburuk sangka, tetapi itulah yang kurasakan dihati dan kupikirkan, mohon maaf.

Tabik
Nanang
23/11/08

No related posts.

No Responses to "Brain Drain dan Patriotisme"

Comment Form


  • IKA: Memang sedih Pak. Dua minggu yang lalu saya kepengen naik KRL ekonomi dari Gondangdia ke UI. ternyata keretanya lagi masalah. Kita disuruh ikut kereta
  • Ahmad Rizali: saya sdh kunjungi blog yg anda sarankan, menarik sekali. Sayang sekali, anda melakukan hal yg dahsyat, tetapi tidak mengenalkan diri, identitas anda t
  • Ahmad Rizali: Terimakasih Hasrul kalian dong yg harus terus menulis dan berkarya. You are what you write kata orang bijak. Write mungkin bisa diganti dengan progra

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...