AhmadRizali.Com

30 Nov, 2008

Gagalnya Pendidikan (Agama) Kita? (2)

Posted by: Ahmad Rizali In: Pendidikan

Kamis petang pekan lalu, seorang teman bertanya kepada saya tentang hasil temuan sebuah studi dari UIN Jakarta Tahun 2008 yang mengatakan bahwa “Pendidikan Agama (Islam) di Indonesia, khususnya di Jawa tidak mendorong perilaku pluralisme”.

Jawaban pertamaku adalah “Tidak mengejutkan dan bahkan memperkuat hipotesis saya menjadi sebuah tesis”, dan terjadilah diskusi.

Saya menambahkan “materi apalagi cara guru agama di sekolah dalam mendidik masih tidak berubah sejak 30 bahkan 50 Tahun lalu, yang masih berkutat dan 99% fokus pada fikih pribadi. Mulai dari bersuci hingga pergi Haji” dst..dst…

Meski agama pada dasarnya adalah sebuah doktrin, namun jika 100% materi agama disampaikan sebagai sebuah doktrin dengan cara yang doktriner, tentulah hasilnya ya hitam-putih, salah-benar, ON-OFF. Bagaimana mungkin pluralisme tumbuh jika sudah seperti ini. Kalaupun ada, tentulah hanya pluralisme pura pura.

Agama disampaikan dengan cara doktriner seperti itu, pembelajaran umum yang pada dasarnya bukan doktrinpun, disampaikan dengan cara yang sama. Guru, bahkan dosen sangat piawai menggunakan cara yg deterministik, semuanya ya “sudah begitu”, kalau tidak begitu ya “salah”.

Pembelajaran ini dimulai dengan mencetak pemikiran balita di PADU dgn cara berpikir gurunya. Jika memberi warna badan gajah tidak abu2, atau kecoak tidak hitam, pastilah dikasih nilai “C”, murid yg mewarnai badan gajah abu2 dan kecoak hitam dpt nilai A. Bayangkan berapa nilai lembar mewarnai jika di murid balita itu mewarnai badan gajah colorful seperti “d united color of benneton” ?

Pola deterministik Guru terus berlanjut, ortu bersikap sama bahkan masyarakatpun menguatkan. Yang beribadah tidak sesuai dengan cara mereka degebukin, bahkan sampai Jors Bush pun bilang “Yg kagak ikut ane,..ente semua musuh ane !” Jadi, yg katanya raja pluralismepun kelakuannya sama.

Jika pendidikan dan akhirnya menjadi perilaku dan berujung kepada budaya yang tidak menjunjung hukum alam pluralisme (bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu sama, bahkan manusia kembar sekalipun), keberagaman, maka jangan berharap manusianya akan jadi pluralis.

Buatku, dosa terbesar Soeharto (alm) adalah menyeragamkan sesuatu yang seharusnya beragam, mulai baju kerja PNS hingga nama gedung (grha) diseragamkan. Bahkan doktrin P4 pun begitu seragamnya hingga PancaSila yg kemuliaannya sebagai ideologi bangsa tiada taranya, nyaris dibuang seperti sampah.

Bangsa ini menjadi tidak pluralis salahsatunya karena gaya kepemimpinan yang doktriner, keberagaman hukum alam di paksa menjadi keseragaman hukum manusia. Di titik inilah peran guru menjadi strategis.

Meminjam istilah kang Endo, seorang pendidik pakar etnomusika “Seharusnya, mendidik itu adalah menjadikan anak manusia menjadi manusia beneran, yang bukan setan dan bukan pula malaikat”. kang Endo ingin mengatakan, bahwa manusia yang sebenarnya adalah Insan Kamil yang sebagian dan sangat sedikit adalah seperti (bukan) setan (hitam) dan malaikat (putih) dan paling banyak adalah diantaranya (abu abu).

Jadi, jika pendidikan memaksa kita menjadi malaikat dan setan, pastilah pluralisme mustahil terjadi, lha cuma ada dua pilihan, tidak ada area abu abu dimana 99% manusia berada, dimana determinisme tidak laku karena melanggar hukum alam.

Jika sudah begini, gagalkah pendidikan (agama) kita ? entahlah,… meskipun dari tampilan produknya nampaknya iya.

Tabik
30/11/08
Nanang

Related posts:

  1. Gagalnya Pendidikan (Agama) Kita? Sejak beberapa Tahun terakhir ini, apalagi sejak begitu banyak bencana...
  2. Revitalisasi Pendidikan Guru/LPTK, Apa yang Bisa Kita Lakukan? Sebagaimana posting di milis ini, pemerintah mulai menunjukan keseriusan dalam...
  3. Resesi Dunia, Pendidikan Kita dan KlubGuru Penerima Nobel Ekonomi Tahun 2008, Paul Krugman meramalkan bahwa resesi...

No Responses to "Gagalnya Pendidikan (Agama) Kita? (2)"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...