30 Nov, 2008
Kapitalisme Pembonceng Fitrah Manusia = Neo Kapitalisme?
Posted by: Ahmad Rizali In: Kapitalisme| Pendidikan
Di awal Tahun 1980 an, Charles Handy, seorang pakar Manajemen dari Inggris berujar “Kapitalisme menggelontor dan membuang habis Marxisme termasuk bayinya, idealisme”. Handy mungkin ingin mengatakan, bahwa Kapitalisme itu hanya bermain di pinggiran, bungkus, baju, kemasan dan hal lain yg tidak bermakna.
Mungkin Handy benar, tetapi kemarin saya seharian terpukau dengan sebuah contoh paparan kapitalisme yang begitu nampak manusiawi, proses transformasi dan model pencitraan produk semen, iya semen yang dipakai membangun rumah itu.
Di sana, sebuah rumah tinggal dikemas habis habisan menjadi berkarakter melebihi yang tinggal disana. Ada sejarahnya, mengapa dibangun, apa yang digunakan, dan berakhir dengan penampakan suasana surgawi rumah itu berada yang dinikmati oleh pemiliknya.
Beberapa kali saya menonton di TV, karena tidak ada pilihan, iklan produk semen yang ditingkahi lagu que sera sera itu dan sayapun saat itu berfikir, hebat sekali cara “menghidupkan” barang mati, rumah, ini. Ternyata cerita dibalik itu lebih dahsyat lagi.
Tidak ada yang menampik, pemilik saham di perusahaan itu tentu menaro uangnya dengan niat utama memperoleh deviden, bukan untuk tujuan filantrofi, sehingga UUD=Ujung Ujungnya Duit kan ? Akhairnya, apapun cara yang dipakai berujung pada duit juga.
Dahsyatnya, si pemilik duit dan pengelola dibantu pakar komunikasi per Iklanan mengerti betul apa yang harus dilakukan. Mereka melakukan studi, apa keinginan pembeli dan hal yang paling fitrah dan manusiawi dari mereka dikemas dalam sebuah impian bersama. Kata kunci mereka “Care, Together”. Bukankah kepedulian dan kebersamaan adalah fitrah manusia ?
Saya geleng geleng kepala sendirian, cara manusia mencari uang dan “menipu” pembeli sudah sedemikian canggih dan halus. Mereka memaksa tanpa yang dipaksa sadar dan paksaan itu masuk di alam bawah sadar mereka, karena ditawarkan dengan cara sesuai fitrahnya.
Barang yang ditawarkan, seringkali bukanlah hal yang penting dan utama, namun gempuran ilusi dan “nuansa surgawi” yang dijejalkan terus menerus membentuk persepsi pribadi dan sekali lagi alam bawah sadar sang calon pembeli, bahkan yang bukan pembeli.
Bentuk komunikasi modern, disertai teknologinya memungkinkan hal tersebut terjadi dan jika ruh kapitalisme akhirnya mampu bertengger di otak, badan dan membentuk perilaku setiap manusia dan digunakan untuk hal yang pinggiran tadi, tentu kita tidak bisa menyalahkan komunikasi dan teknologinya.
Namun, ketika “dagangan” idealis seperti pendidikan masih di”tawarkan” kepada “pembeli” dengan cara yang sangat medioker, mampukah “isi” dagangan itu membentuk perilakunya dan bersaing dengan yang diisikan oleh pencari rente ekonomi itu ?
Pendidikan kita, bahkan mungkin di belahan dunia lain memang tertinggal jauh, padahal dagangannya sendiri sudah bersifat fitrah/alami, namun karena tidak disampaikan dengan cara alami, maka hasilnya tak sedahsyat, “sampah” yang disampaikan secara fitrah tadi.
Handy nampaknya tak sepenuhnya benar, karena ternyata anak marxisme tadi yang sebetulnya adalah bersifat alami, sekarang ditunggangi oleh Kapitalisme untuk mencapai tujuannya, surga dunia, kemakmuran, tujuan yang juga dipikirkan Karl Marx juga.
Tabik
30/11/08
Nanang
No related posts.