Cobalah perhatikan di setiap per3an atau per4an jalan di kota anda, pasti ada yang berbeda, Di Depok, biasanya di tempat strategis itu terpampang iklan rumah atau kredit sepeda motor atau paling tidak undangan untuk menghadiri majlis taklim, sekarang tidak lagi !
Apakah rumah dan sepeda motor sudah tidak dijual dan taklim sudah membosankan ? Tidak juga. Iklan itu masih ada namun sudah tak terlihat, tertutup dan terkepung oleh poster, banner besar dan spanduk jual diri para caleg partai.
Di kota Tomohon dan kota Manado, Sulut, karena mayoritas warganya beragama kristen, caleg partai berbasis agama Islam yang perempuan tetap berkerudung, namun ada kompromi, sedikit rambut jambul masih boleh terlihat. Lain lagi dengan partai berbasis agama kristen di kantung muslim, foto calegnya berbaju koko dan berkopiah.
Adalagi partai yang awalnya sangat menampilkan simbul Islam, sekarang sudah mulai “menyerang”, calegnya dipajang di jalan besar berpakaian bak anak band, meski disampingnya, caleg perempuannya masih rapi berjilbab.
Partai ini juga berfikiran sangat maju, perempuan yang dulu habis habisan dihujat karena perilakunya yang tidak cocok dengan ideologi partai, sekarang diberi penghargaan dan ramai diberitakan di media.
Adalagi partai yang berpenampilan saleh, meski perilaku kadernya banyak yang salah. Dimusim perayaan agama, semua jargon kesalehan dipajang. Mungkin untuk mengesankan bahwa caleg yang mereka ajukan adalah manusia terpilih.
Musim jual diri adalah musim bisnis cetakan berkembang pesat. Tanyalah percetakan spanduk dan banner, terutama yang terbuat dari bahan non kain, sangat laku. Spanduk kain yang disablon tradisional hanya laku di pedalaman, sudah ketinggalan jaman.
Dengan teknologi, wajah caleg yang kusam bisa dipermak jadi lebih segar, bahkan ada caleg yang meminta wajahnya dipermak dan terlihat seperti rajin beribadah (Kompas,2008), politikus itu sangat sadar bahwa politik adalah persepsi.
Sebagaimana dunia bisnis, produk yang sudah dikenal, biasanya tidak terlalu gencar berpromosi agar lebih terkenal, tetapi masih promosi agar tetap tercitra dengan baik. Beberapa partai status quo tak terlihat gencar berpromosi, sementara partai gurem tanpa bandar besar juga sulit promisi.
Lihatlah partai cap kepala garuda, bintang segi tiga berlatar biru dan bulansabit kembar padi kapas atau partai yang berjargon nurani, sangat gencar menjual diri. Bandar mereka tentu tajir dan tentu sang bandar pandai berhitung dalam menaro uangnya agar mampu kembali. Buat apa membantu partai guremn yang pasti kalah.
Jika dulu dimusuhi, sekarang di tampilkan sebagai kawan dan guru bangsa, jika dulu diharamkan jadi imam dan sekarang dirangkul rangkul, jika dulu berpeluk pelukan dan sekarang bertempur di pengadilan dan jika dulu asyik main sinetron dan film sekarang menjadi calon legislatif dan gubernur, itulah politik.
Dalam politik, konon yang tetap adalah kepentingan. Politik juga membuktikan hukum ketidakpastian heisenberg yang dalam pembuktiannya perlu menggunakan “persamaan schroodinger” yang “mengerikan” itu. Dalam politik juga ada irasionalitas dan tentu uang.
Sekarang musim jual diri, dirinya dijual untuk menjadi tokoh politik dan yang bisa mengendalikan mereka hanya nurani dan masyarakat yang masih waras dalam bersikap dan berfikir. Dalam dunia politik, ketika sistim terbuka dan transparan saja masih mampu “menipu” pemilih dengan membentuk persepsi, apalagi ketika sistim tertutup, tidak transparan.
Musim jual diri adalah musim ketika mata dan pikiran kita dipenuhi polusi dengan foto foto “tokoh” yang tdk kita kenal dan tampil manis, ganteng, cantik, saleh dan tersenyum simpul sambil berkata “pilihlah aku jadi wakilmu,…”
Tabik
26/12/08
Nanang
Related posts:
- RT07/RW09 di Perumnas-2 Depok "Mari kita pilih ketua RW kita" itulah tulisan di poster...