Tepat bakda sholat jum’at, beberapa undangan bergegas memasuki lift gedung pusat Pertamina menuju Lantai 20 gedung utama di Jln.Perwira Jakarta.
Lantai 20 ini semacam lounge atau ruang eksekutif yang terbuka. Dilengkapi beberapa pojok bersofa mewah dan penyekat dari kulit dengan motif wayang kulit jawa, mungkin mewakili aura Pertamina jaman dulu, tokoh yg dipilih adalah jajaran dewa tertinggi, kecuali Arjuna dan Woro Sumbodro.
Kami diundang hadir dalam serah terima jabatan (sertijab) Sekretaris Perseroan. Mantan Presdir Perta Niaga diangkat menjadi Sekper baru, yang diganti menuju posisi senior setingkat direksi yang urusi jual beli produk migas Pertamina, jabatan yg terpanas dalam korporasi ini.
Sebelum sertijab dilakukan, kami dijamu makan siang. Jika “manusia biasa” yg menjamu makan siang, tentu makan nasi dan lauk biasa. Saya sendiri suka makan siang nasi pecel dengan lauk ikan kembung goreng, ditutup teh anget tawar, terkadang ekstra makan rujak atau buah pepaya.
Makan siang kami “hanya” dimsum korea, bakso tahu, mpek mpek palembang dan sate lontong cilacap, plus es kelapa muda dan sekeranjang buah campur. Rasa kudapan sederhana tadi semuanya lezat, tetapi tidak “nendang” di perutku. Lezat ? Mungkin karena semua direksi hadir, kecuali wakil Dirut.
Sertijab berlangsung sederhana, cepat dan takzim. Pidato hanya oleh Dirut dan tak lebih 10 menit, yang hadir hanya jajaran Direksi ber enam di shaf khusus dan Deputi plus staf ahli serta jajaran manajemen di sekretariat korporasi menempati satu jajaran shaf yang berbeda pula.
Terasa sekali bahwa jajaran Direksi adalah “manusia sulit disentuh” ada aura yg membuat mereka jadi “setengah dewa”. Entah karena jabatan dan posisi shafnya tadi, entah karena usianya yg sebagian sdh senior, entah karena harga pakaian dan sepatu yg dikenakan atau harga mobil dan tempat parkirnya, atau karena otoritasnya yang memang bak dewa, bisa saja saat itu membuat kami pulang dalam predikat pengangguran.
Pertamina yang sekarang murni PT dengan saham 100% milik negara memang sedang berubah. Sebelumnya, konon seremoni seperti ini gemebyar bak pengukuhan profesor, karena dahulu perusahaan ini persis kementrian dan punya kultur PNS yg sangat kuat, shg semua seremoni PNS dipakai di sini.
Yang tidak berubah memang strata sosial dan takdir manusianya, ada yg tajir ada yg tafran, ada yg bos ada bawahan, ada yg cerdik cendekia ada yg awam, ada yg lengkap indranya bahkan cantik molek ada yg buruk rupa. Semua itu memang sudah dicatat dengan baik dalam ketokohan wayang yg dipajang di sekat ruangan Lt 20 itu.
Disana, betara guru berjajar rapi dalam satu shaf dengan anaknya di kiri kanannya, ada yg bertampang raksasa berwajah buruk, ada pula yg tampan dan cantik. Di jajaran shaf lain, dipajang Arjuno dan Sumbodro. Selain shafnya yg beda, meski raksasa buruk, karena keturunan Dewa langsung, mereka berbaju dan bersepatu, sedang ksatria Arjuna dan sang istri, tak bersepatu dan tak berbaju.
Tabik
Nanang
2/1/09
No related posts.