AhmadRizali.Com

03 Jan, 2009

Gedung Pusat Pertamina Lt 20 di Suatu Siang

Posted by: Ahmad Rizali In: Pendidikan

Tepat bakda sholat jum’at, beberapa undangan bergegas memasuki lift gedung pusat Pertamina menuju Lantai 20 gedung utama di Jln.Perwira Jakarta.

Lantai 20 ini semacam lounge atau ruang eksekutif yang terbuka. Dilengkapi beberapa pojok bersofa mewah dan penyekat dari kulit dengan motif wayang kulit jawa, mungkin mewakili aura Pertamina jaman dulu, tokoh yg dipilih adalah jajaran dewa tertinggi, kecuali Arjuna dan Woro Sumbodro.

Kami diundang hadir dalam serah terima jabatan (sertijab) Sekretaris Perseroan. Mantan Presdir Perta Niaga diangkat menjadi Sekper baru, yang diganti menuju posisi senior setingkat direksi yang urusi jual beli produk migas Pertamina, jabatan yg terpanas dalam korporasi ini.

Sebelum sertijab dilakukan, kami dijamu makan siang. Jika “manusia biasa” yg menjamu makan siang, tentu makan nasi dan lauk biasa. Saya sendiri suka makan siang nasi pecel dengan lauk ikan kembung goreng, ditutup teh anget tawar, terkadang ekstra makan rujak atau buah pepaya.

Makan siang kami “hanya” dimsum korea, bakso tahu, mpek mpek palembang dan sate lontong cilacap, plus es kelapa muda dan sekeranjang buah campur. Rasa kudapan sederhana tadi semuanya lezat, tetapi tidak “nendang” di perutku. Lezat ? Mungkin karena semua direksi hadir, kecuali wakil Dirut.

Sertijab berlangsung sederhana, cepat dan takzim. Pidato hanya oleh Dirut dan tak lebih 10 menit, yang hadir hanya jajaran Direksi ber enam di shaf khusus dan Deputi plus staf ahli serta jajaran manajemen di sekretariat korporasi menempati satu jajaran shaf yang berbeda pula.

Terasa sekali bahwa jajaran Direksi adalah “manusia sulit disentuh” ada aura yg membuat mereka jadi “setengah dewa”. Entah karena jabatan dan posisi shafnya tadi, entah karena usianya yg sebagian sdh senior, entah karena harga pakaian dan sepatu yg dikenakan atau harga mobil dan tempat parkirnya, atau karena otoritasnya yang memang bak dewa, bisa saja saat itu membuat kami pulang dalam predikat pengangguran.

Pertamina yang sekarang murni PT dengan saham 100% milik negara memang sedang berubah. Sebelumnya, konon seremoni seperti ini gemebyar bak pengukuhan profesor, karena dahulu perusahaan ini persis kementrian dan punya kultur PNS yg sangat kuat, shg semua seremoni PNS dipakai di sini.

Yang tidak berubah memang strata sosial dan takdir manusianya, ada yg tajir ada yg tafran, ada yg bos ada bawahan, ada yg cerdik cendekia ada yg awam, ada yg lengkap indranya bahkan cantik molek ada yg buruk rupa. Semua itu memang sudah dicatat dengan baik dalam ketokohan wayang yg dipajang di sekat ruangan Lt 20 itu.

Disana, betara guru berjajar rapi dalam satu shaf dengan anaknya di kiri kanannya, ada yg bertampang raksasa berwajah buruk, ada pula yg tampan dan cantik. Di jajaran shaf lain, dipajang Arjuno dan Sumbodro. Selain shafnya yg beda, meski raksasa buruk, karena keturunan Dewa langsung, mereka berbaju dan bersepatu, sedang ksatria Arjuna dan sang istri, tak bersepatu dan tak berbaju.

Tabik
Nanang
2/1/09

No related posts.

No Responses to "Gedung Pusat Pertamina Lt 20 di Suatu Siang"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...