Kakak lelaki saya yang wafat selasa pekan ini, sebetulnya secara medis lebih sehat daripada sang istri yg sudah berkali kali masuk ICU karena gula darah super tinggi. Bahkan beberapa tetangga terkejut ketika takziah dan melihat yg terbujur bukan istrinya, tetapi suaminya. “Itulah usia,…” kata ayahku yg berusia 90 Thn itu saat ikut takziah.
Adik ipar almarhum bercerita, sepekan sebelum almarhum wafat, dia mencium bau campuran bunga kenanga, melati dan berbagai rupa bunga yg biasa menyertai keranda, selama 3 (tiga) hari. Adik iparnya itu buta dan tinggal bersama almarhum.
Putrinya yang sedang ikut di rumah itu dan merawat ibunya mengisahkan bahwa 2 pekan sebelum almarhum wafat, dia diajak bersepeda motor mengelilingi kompleks makam di mana dia akhirnya ditanam, ketika ditanya “ngapain” kok aneh aneh, cuma berujar “udahlah nak, ikut aja…”
Putrinya yang lain bercerita, sehari sebelum wafat, almarhum mencuci sendiri semua baju dan celana serta pakaian yg biasanya teronggok untuk dicuci bersama dan saat wafat, semua pakaian itu sudah terlipat rapi.
Yang seru, ayah saya bertengkar dengan ibuku, karena ayahku ngotot mengatakan anaknya sakit keras, tepat ketika dia usai sholat tahajud di selasa pagi itu. Ibuku tahu, almarhum sehat sehat saja. Sore hari putra pertamanya wafat.
Jika kuinterview terus, biasanya cerita seperti itu akan bertambah. Ada yg sahih, seperti firasat ayahku itu, atau sekedar “bumbu penyeram”, apalagi jika yg wafat manusia sangat baik dan mulia, akhirnya tumbuh cerita cerita “karomah” dan berujung yang wafat akan dianggap “wali”.
Kakakku almarhum adalah manusia reguler, manusia biasa seperti aku yg kadang baik, kadang jahat, sehingga ketika meninggal ya seperti manusia yang lain. Perkara dia wafat dan sempat beres2, mungkin saja dia sedang bete ingin mencuci, dia sudah purna tugas.
Yang menarik justru cerita putra bungsunya yang masih mahasiswa tingkat akhir, ceritanya justru biasa saja seperti manusia yang wafat karena secara medis memang jantungnya yg agak lemah, kurang kuat dengan turunnya tekananan darah yang mendadak.
Kakakku baru 2 tahun berhenti merokok berat dan tidak berolahraga sejak usia muda, pemalas dalam bergerak, meski hanya berjalan kaki. Yg lebih parah, dia menyukai makanan “sampah” seperti hati, limpa, usus, babat, ampela dll. Dia “kena” asam urat dan sering tergeletak tak bisa berjalan.
Sekali lagi, semua firasat tadi bisa benar, bisa salah. Yg saya yakin benar adalah firasat sang ayah dan cuma sakit. Tetapi kalau mau, boleh saja firasat dan peristiwa tadi kita terima sebagai tanda tanda kematian agar sebuah peristiwa kematian “lebih seru” atau dicuekin saja, toh sudah jelas penyebab kematian kakakku adalah jantungnya stop karena tekanan darah drop, selain tentu, “kontrak”nya dengan sang penguasa hidup sudah habis.
Buatku, tanda tanda kematian seperti tanda tanda alam yg lain, jika berawan tebal, itu tanda akan hujan. Jika uban sudah mayoritas di kepala, gigi mulai tanggal, berjalan sudah tak tegak lagi, makanan tdk sehat, hidup tidak sehat, siap siap saja.
Kematian adalah sebuah keniscayaan, selain ada kelahiran, seperti putra pak Sopyan, ada pula calon pasangan baru yang akan melahirkan generasi berikutnya dan kehidupan akan terus berjalan.
Mati satu, tumbuh seribu (pantes warga dunia makin banyak hehehe).
Tabik
Nanang
Sabtu,Jan 2009
Related posts:
- Tontonan Kematian Jacko wafat sudah, sesama raja, bang haji rhoma ikut memberi...