AhmadRizali.Com

05 Apr, 2009

Produk Pribumi!… Siapa Takut?

Posted by: Ahmad Rizali In: Budaya| Catatan| Kearifan Lokal| Pendidikan

Dua bocah lelaki gundul lucu lintang pukang mengejar ayam yang akhirnya ditangkap neneknya. Adegan ditutup kedua bocah itu bersarung dan berpeci dikala sore, ibu muda tersenyum berbaju kurung serta kakek yang berpeci,bersarung dan berbaju teluk belanga, melayu sekali film animasi itu.

Film yang ditayangkan TPI itu memang produk impor dari Malaysia, mutu animasinya tidak istimewa, tetapi isinya berkarakter, melayu dan malaysia banget. Yang menjadi pertanyaan, mau juga Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) menayangkannya. Apakah murah ? Tidak ada produk lokal yang memenuhi syarat, malas mencarinya atau hal lain ?

Saya pernah dengar ada AINAKI, asosiasi industri animasi yang konon kreatif dan banyak produknya. Saya juga dengar, Departemen Perdagangan sedang mempromosikan industri kreatif yg salah satunya adalah produk animasi itu. Depdiknas punya Pustekom yang membuat produk pendidikan seperti itu. Apakah produk animasi bermutu olahan kita lebih banyak diekspor, seperti teh, coklat dan beberapa produk garmen ? Dan, sebagai gantinya kita mengimpor produk murah dan kurang bermutu seperti film malaysia tadi untuk kita tonton ?

Di TPI pagi ini, saya juga menyaksikan tayangan dapur Palembang, disana disajikan bagaimana memasak Pindang Patin ala Palembang dengan nyaris semuanya produk lokal, kecuali kedelainya mungkin. Ikan Patin ini hanya ada disungai tropik dan sungai besar sumatra dan kalimantan. Yg ter lezat adalah jenis liar, eks sungai, bukan patin peliharaan. Wuih, mak nyus lezatnya, pindang patin liar ini. Ribuan produk makanan lokal tersebar di nusantara ini.

Dengan keragaman dan kelezatan penganan kita itu, apakah mereka cukup kuat bertahan ? Belum tentu ! Cobalah hitung berapa banyak remaja kota kita yang masih menyukai nasi rawon, pecel lelel, coto makasar, papeda ? Rasa Internasional sudah menyusup habis habisan di kota besar. Starbuck, Donat Dunkin, RotiBoy sudah menjadi trend teman muda saya.

“Enak sekali menjadi seorang Bondan Winarno, masuk TV, jalan jalan dan selalu mencicipi makanan enak serta dibayar pula” ujar seorang teman penggemar travelling. Dia benar, tetapi Bondan melakukan sebuah upaya konservasi budaya makanan. Coba tengok, acara menyajikan penganan Nusantara menjamur di TV.

Rawon yang berbasis kluwek itu entah dari mana, tetapi rawon Malang, Surabaya, Madura, Madiun dan Solo sangat berbeda rasanya, meski rasanya tetap lezat, mungkin karena Rawon itu berkarakter, sehingga dimana saja dia tetap rawon meski berbeda, demikian juga Soto dan pecel. Lantas, bisakah semua produk impor itu langsung “didomestikasi” menjadi Indonesia ketika sudah hidup mendarah daging disini, semoga.

Depok
30/8/08
Nanang

Related posts:

  1. Dodol Untuk warga yg tinggal dijawa dan pernah bepergian pasti mengenal...

No Responses to "Produk Pribumi!… Siapa Takut?"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...