AhmadRizali.Com

25 Jun, 2009

Ketika anakku tidak naik kelas

Posted by: Ahmad Rizali In: Keluarga| Pendidikan| Ujian Nasional

Anakku, sejak balita tidak pernah diam, bahkan saat tidur tidak pernah tenang, selalu bergerak, bahkan pernah hilang dari pengawasan ketika kami berjalan-jalan 3 kali, ketika sedang di kota malang, dua kali di supermarket. Bocah lelaki ini tidak sabaran dan ketika di SD, gurunya saat memberikan rapor selalu berkata bahwa jika dia serius dalam belajar akan menjadi yang terbaik, namun dia tida kpeduli, tetap bersikap dan melakukan sesuatu apa yg dia inginkan.

Anak itu putra sulungku, sekarang berusia 16 tahun dan beberapa bulan lagi dia 17 tahun. Saat di kelas 4 SD, matanya tertusuk gagang bendera kecil hingga menggencet saraf korenanya dan membuatnya buta sebelah, mata kirinya masih bisa melihat. Kami mengoperasi bekas tusukan itu di RS Mata terbaik di Indonesia habis habisan dan tetap tidak berfungsi. Matanya agak juling, namun dia kami perlakukan apa adanya dan tidak terasa menjadi minder, terbukti temannya sangat banyak, bahkan teman dekat wanitanya gak kehitung.

Anak ini, sesuai kebiasaan kami, terdidik di suasana yang sangat demokratis. Kami tidak pernah memaksakan sesuatu yg tidak prinsip, semisal memilih pakaian, memilih warna cat kamar tidur, jenis sepatu, kecuali yang prinsip seperti sikap kepada orangtua, jujur dan hal prinsip lain. Karena suasana seperti itu, kami sering berdebat dalam banyak hal, termasuk dalam cara belajar dan apa yg ingin dicapai serta diinginkan dalam keseharian. Disiplin tetap diterapkan, tetapi (mungkin salah) tidak dengan paksaan secara lugas, seperti ayahku yg akan menyiram air ketempat tidur hingga basah kuyup, ketika kami terlambat bangun pagi untuk sholat subuh. Nyaris semua keputusan diambil dengan cara dialogis, tidak pemaksaan.

Di kelas 2 SMPN, si sulung ini mulai berulah, tidak pulang hingga jam 02.00 larut malam dan kuancam di depan rumah di bawah pohon mangga di subuh hari, sambil kupegang lehernya dan kuancungi tinju di depan mukanya agar tak mengulangi kelakuannya. Mungkin dia jeri dengan ancaman itu, kelakuan sedikit berubah, meskipun kabur dari sekolah sudah menjadi kebiasaannya. Saat naik kelas 3 nilainya diatas rata2 kelas, meski tidak menjadi jawara di kelasnya dan ketika kelas 3 kelakuan agak berubah, meski tetap saja ada absensi membolos, sendirian. Dia lulus UN dengan nilai matematika hanya salah 1 dari semua soal. Aku lega dia bisa menyelesaikan SMPN-nya dengan nilai UN yg cukup baik dan akhirnya dengan berliku liku berhasil masuk sebuah SMAN yg cukup baik reputasinya di kotaku.

Kelas 1, mulai berulah. Sejak mulai masuk dia absen dan walikelasnya berang, tidak mampu lagi menangani si sulung dan menyarankan untuk pindah ke SMAN lain, kebetulan sistim di kotaku mungkin terjadi mutasi murid dari sebuah sekolah ke sekolah lain asal nilai mencukupi, masuklah dia ke SMAN yg memang dia inginkan dengan reputasi yg lebih baik dari SMAN saat dia masuk pertama kali, semester 2 kelas 1 dia lewati dengan sangat baik, tanpa absen dan nilai rapor yg memuaskan (masih tetap tidak jawara, karena sangat jarang belajar), kami berfikir dia sudah berubah, kelakuannya dalam berteman semakin menjadi.

Ketika di SMP dia sudah mulai menjadi anak band, satu2nya yg dia lakukan secara konsisten adalah berlatih band dengan teman2nya, yg lain, tidak janji.

Ketika kelas 2 SMA, dia memperoleh walikelas yg lugas, seperti polwan, sangat berbeda dengan walikelas saat dia kelas 1 semester 2 yg, mesti lugas dan jutek, namun bisa bersikap seperti teman, si sulung memfavoritkan guru ini dan disuruh apa saja mau, sementara dengan walikalas yg baru, nyaris berantem, gara gara dia merasa tidak bersalah, kepalanya dijedut dengan tangan di depan teman2nya. Aku maklum saja, guru seperti polwan itu umum di SMAN sedangkan seperti walas kelas 1 semester 2 tadi jarang diperoleh, lalu kubilang kepadanya ketika dia protes gurunya tidak enak ”Dimanapun kamu temui guru, tidak selalu enak. Jadi murid itu selalu sudah, itulah belajar,… jangan minta diperlakukan khusus dong, kan ada 40 temanmu yg lain yg juga punya masalah”. Dia diam saja.

Di kelas 2 itu, nilai rapor semester 1 kacau balau. Ada ulangan semesteran yg dia tidak ikut dan tidak upaya untuk memperbaiki nilai, absennye juga tak terhitung. Ketika kelas dua, walas ”sang polwan” yg sudah bete melihat si sulung sudah mengancam dia tidak akan naik kelas. Akhirnya, meski kelakuan si sulung di semester 2 mulai agak baik (absen sudah jauh membaik, ulangan juga mayoritas diikuti dan sudah mulai mau membantu SMA-nya ngeband, dulu dia tdk pernah ngeband dengan teman se sekeolah), namun sekolah punya putusan lain, si sulung tidak naik kelas-3 !! Bibinya yg mengambil rapornya bercerita, ternyata si sulung ini juga sudah di vonis seperti ”penyakit menular” oleh walikelasnya, karena teman2 sekolahnya berusaha menghindarinya, karena akan kena sangsi jika berdekatan dengan dia, semoga bibinya salah dengar.

Buatku yang memiliki tradisi jawara, tidak naik kelas itu tentu memalukan tetapi tidak segalagalanya, bahkan bisa menjadi pelajaran untuknya, bahwa kegagalan itu mahal dan berharga, karena siapa pula yg bisa menjamin saudara misannya yg wakil olimpiade tadi lebih sukses dan bahagia hidupnya dari si sulung yg ”kacau” itu. Dengan asumsi yg agak ”menyenang nyenangkan hati” tadi, aku menerima saja dia tidak naik kelas bahkan akan sangat aneh dan menjadi sesuatu yg ”menipu” jika dia ”dipaksa” naik kelas juga. Proses hidup dia, statistically masih panjang, semoga dia menjadi lempeng di ujung, karena kehidupan dia yg ”semau-maunya” seperti seniman dan selalu mengikuti proses kreatif itu memang mencemaskan.

Aku masygul dan ibunya sedih putra terbaiknya tidak naik kelas, sebuah sejarah baru untuk keluarga ibunya, karena keponakannya yg di SMP mewakili kota depok dalam olimpiade matematika, sementara si sulung, meski tidak bodoh, malah tidak naik kelas. Si ibu tidak melihat bahwa si sulung sudah berkali kali mewakili ”tidak resmi” sekolahnya bermain band hingga sampai Jakarta. Ketika mendengar dia tidak naik kelas, sms ku hanya ”Akhirnya benar kamu tidak naik kelas dan pesanku cuma 1, berubahlah dalam menjalani hidup, karena akhirnya semuanya ada ditanganmu dan untukmu, apakah ingin sukses atau gagal dalam kehidupan ….”, dia tidak menjawab sms itu.

Related posts:

  1. KETIKA ANAKKU TIDAK NAIK KELAS (3) Kemarin persanaanku sama seperti 31 Tahun yang lalu, ketika membaca...
  2. Ketika Anakku Tidak Naik Kelas (2) Hari sabtu pekan lalu, saya diundang oleh SMA dimana maman,...
  3. Ketika Anakku Tidak Naik Kekas (4) KATNK (4): akhirnya lulus juga Dengan mata masih setengah terpejam...

5 Responses to "Ketika anakku tidak naik kelas"

1 | Yusty

July 13th, 2009 at 9:59 am

Avatar

Pak Ahmad Rizali,

Saya tersentuh dengan artikel Bapak. Apakah sebagai orang tua kita masih bisa “menyenang-nyenangkan” hati
kalau cap/ vonis “penyakit menular?” itu nantinya akan menghantui anak di siang bolong? Saya pernah membaca salah satu blog juga (kebetulan blog seorang guru), bahwa anak yang “pintar” kalau di sekolah cuek, kurang hai hai dengan bapak ibu guru, vonisnya adalah “sikap kurang baik”? (padahal anak tersebut temannya banyak) dan sikap kurang menyenangkan itu menjadi salah satu tiket tidak naik kelas. Mau kemanakah anak kita?

Salam,
Y

2 | Ahmad Rizali

July 27th, 2009 at 1:43 am

Avatar

Bu Yusti,
terimakasih komentarnya.

Terkadang saya agak “kejam” dengan anak dan sengaja membiarkan kondisi itu mereka alami, karena bukankah hal itu nyata ? Apakah kondisi nyata itu akan berpengaruh pada kejiwaan anak dan masa depan mereka, semoga pengaruh itu positif dan masa depan mereka cerah. Saya sependapat dengan beberapa orang bahwa, masa depan yg dihadapi oleh anak kita, jauh berbeda dengan yg saya/kita hadapi, jadi biarlah dia “bertempur” dengan kondisi nyata saat ini untuk masa depannya.

Salam

3 | M Faizi

August 3rd, 2009 at 11:15 pm

Avatar

Ya, saya menyukai artikel ini juga. bagus. ini adalah kenyataaan (sudah terjadi), sementara yang saya baca di buku-buku tentang “harapan” dan “cara mendidik yang baik” itu cenderung masih bersifat harapan (belum terjadi).
Banyaknya, sikap demoktratis, terkadang membuat anak yang mengatur orang tua. Sekali lagi: “anak mengatur orang tua”.

4 | Azky

August 20th, 2009 at 12:24 am

Avatar

Thanks Mas Nanang, postingan yang menarik dan sangat berguna untuk banyak pihak terutama orang tua. Salut buat Mas Nanang karena bisa menerima kenyataan yang mungkin terasa pahit sekarang. Semoga kegagalan di masa sekarang akan mewujudkan mutiara di masa yang akan datang.

Barusan saya dapat cerita dari sekolahan di pedalaman papua. 3 orang guru dengan 300 siswa. Kebetulan salah satu guru itu adalah mantan murid teman saya yang mengajar di Papua juga. SI mantan murid ini dulunya adalah anak pandai sehingga ketika SMA dia mendapat beasiswa di SMA di Australia. Sayangnya si murid ini hanyut dalam kehidupan malam sehingga dikeluarkan dari sekolah. Tapi ternyata kegagalan itu justru memberinya semangat untuk membangun desanya. Dalam jangka 1 tahun dia bisa menumbuhkan minat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya, terbukti dengan 300 anak yang masuk sekolah dari 1 tahun sebelumnya yang hanya 15 anak.

Last but not least….pengalaman berharga kadang harus dibayar dengan mahal. Sukses buat si Sulung yaa…

5 | Ahmad Rizali

August 20th, 2009 at 6:01 am

Avatar

Ada perkembangan menarik,.. karena sudah tidak naik kelas dan kami tidak marah, meski sedikit mengomel (lebih tepat memberi nasehat), anakku sudah jarang membolos, padahal tidak diantar seperti sebelumnya dan walikelasnya tetap yg lama dan ketika kutemui hanya kusampaikan “titip anak saya dan perlakukan biasa saja, termasuk jangan pula mempermalukan dia”. Ketika kutanya “Kok sudah tidak pernah membolos…”, dengan enteng dia menjawab “Kan sudah tidak naik kelas,…. “. Buset dah hehehe.

Sekarang dia dijemput saat berangkat sekolah oleh teman sekelasnya dan ketika kuledekin “Enak lu, sekarang antar jemput gratis,…” sambil nyengir dia menjawab “itu anak buah…”, gawatlah, mentang2 senioren, teman sekelas yg baru naik dianggap anak buah.

Jum’at pekan lalu, dia dibon teman2nya dari Jakarta untuk menjadi gitaris pengganti, manggung di Kuningan-Cirebon dan sms ibunya dapat honor (sdh termasuk transpor) cepek jigo rebu hehehe…. jadi inget pengalaman pribadi, seumur dia aku ikut genk “terlarang” STM ku yg hobinya naik gunung untuk ikut napak tilas “Jendral Soedirman” dari yogya ke Wonogiri melalui daerah kering Gn Seribu. One way Ticket menyebabkan pulang ngamen di Kereta yg mangkal di stasiun Tugu.

Azky, terimakasih dukungannya, aku juga berharap seperti itulah, yg pasti aku senang, semoga jalanan betul betul menjadi “guru” terbaik untuknya, selain sekolah.

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


ririn kindarti
Salam Kenal pak, nice web, saat ini saya adalah guru TK di salah satu TK di Surabaya, saya telah menyelesaikan jenjang S1 PG PAUD saya tahun ...

rahma
Salam Kenal pak! Awalnya saya berpikir background pendidikan bapak adalah keguruan dan ilmu pendidikan, ternyata bukan tp itu tidak menghalan...

Sri Rahayu
Salam kenal Pak... Nice website 'n good info... Salam Pendidikan...

sugiarto
cs.pernikku@yahoo.com...

nanang
Bung Faizi, jawabnya singkat..BISA :), salam untuk Kyai Hanif & paman2 beliau, pak Panji juga...