20 Oct, 2009
Ketika Anakku Tidak Naik Kelas (2)
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan| Guru| Hak dan Kewajiban| Keluarga| Pendidikan| Pernak-pernik| Sekolah
Hari sabtu pekan lalu, saya diundang oleh SMA dimana maman, anakku yg “bengal” itu bersekolah untuk meneumi walikelas dan guru BP-nya, isi undangan adalah pembinaan murid. Beberapa hari sebelumnya, maman di panggil menghadap Kepseknya, seorang perempuan senior yang lugas dan sangat tegas, didampingi oleh walikelas, guru BP dan beberapa guru kunci di kelas IPS “semua pentolan SMAN pada hadir ma..”, demikian si maman melapor kepada ibunya. “Aku diminta untuk pindah sekolah, ke SMK Boradcast, disana ada musiknya”. Sang ibu tercekat, bukankah putra tertuanya ini sudah mulai berubah, bahkan jika sebelumnya degan diantar saja hingga pintu sekolah dia masih kabur, sekarang dengan diberi kepercayaan, absensinya sudah mulai berkurang ? Demikian pikiran dia.
Kami berdua ditemui oleh ibu walikelas dan ibu pembina BP disebua hruangan khusus dan dibuka dengan daftar dosa si Maman, lumayan.. dalam semester gasal sesudah tidak naik kelas ini, dia masih absen 16 hari !! meski aku lihat ada beberapa catatan nilai yg cukup bagus, 80 dan 70, tetapi kulihat beberapa nilai mata pelajaran terlihat kosong hehehe…. “dia tidak ikut beberapa ulangan harian bu, sehingga nilainya kosong…” demikian ujar Walikelasnya yg mengaku sudah mulai dekat dengan si Maman.
Karena sebelum hadir ke sekolah itu kami bertiga sudah berdiskusi panjang dan kuberikan jalan yg bisa dia tempuh dengan segala resikonya, dengan mantab si maman bilang “aku mau ikut paket C aja dan mau lulus barfeng dengan teman2ku…”, dia juga berjanji, meski aku tidak yakin apakah dia akan menepati atau tidak akan disiplin. Kusampaikan, bahka mengikuti paket C itu artinya dia melakukan home schooling dan kedisiplinan pribadi sangat diperlukan. Dengan sedikit debat dan dengan rasa berat, aku dan ibunya menyetujui dia untuk home schooling, kuminta dia untuk membuat jadwal pekanan, disana termasuk belajar dan main, serta bermain band “gua nggak mau elo, cuma nongkrong saja dan bukankah les musik juga cuma sekali atau dua kali dalam sepekan dan hanya beberapa jam ?”
Kami sampaikan kepada kedua guru itu bahwa kami mengikuti keinginan anak kami untuk home schooling saja dan kedua guru itu agak tercekat dan berkata “Kami tidak berniat meminta si maman keluar dari sekolah ini lho pak, tetapi jika dia tidak naik kelas lagi artinya dia di DO dan praktis keluar juga, oleh sebab itu kami memberi jalan keluar dengan cara pindah”. Ternyata, dosa si maman “hanya” membolos dan tidak peduli dengan ulangan, bahkan ketika gurunya menyarankan “sudahlah yg penting kamu ujian, menyontek juga tidak apa2… aku berpura pura tidak kaget”, jadi ketika si maman, karena jarang masuk dan malas belajar, ketika ulangan tidak bisa ya, tidak dikumpulkan hehehe…..
oo00oo
Ketika sebuah sekolah dibuat dan dijalankan, apalagi sebuah sekolah umum seperti SMAN ini, aku sudah berfikir bahwa dia tidak akan mampu melayani “anak bengal” seperti si maman ini yg kami didik dengan cara berbeda dan guru BPnya heran kami tidak pernah keras (baca memukul) agar dia menjadi penurut. Sekolah jenis ini, pasti akan memberi pelayanan minimal dan seragam dan dengan pendekatan stick lebih banyak daripada carrot. Aku sudah senang bahwa si maman memperoleh pengalaman bersekolah di tempat seperti ini dengan berjenis guru yang dia tidak sukai dan dia cintai. Sebetulnya aku berharap dia mampu bertahan dengan kondisi itu, tetapi ternyata dia menyerah dan memilih home schooling.
Di sebuah rumah, diluar pagar sekolah ada sebuah warung tempat nongkrong murid murid “bengal” dan mereka sebuat warung bang Nur atau BN. Disanalah tempat alumni yg sudah sukses hingga penganggur bertemu dengan muird baru. Warung ini menyediakan semua yg dibutuhkan oleh murid leasure, seperti lesehan, permainan karambol dlsb. Kadang tanpa terkontrol si bang Nur, mereka juga merokok. “Anak bengal” itu menjadikan warung BN sebagai sarang dan markasnya dan bangga serta membuat jaket khusus. Bahkan para pembengal ini membuat sebuah acara yang disebut “Sahur on The Road” yaitu membagikan makanan sahur untuk para pekerja jalanan dan gelandangan pengemis yg akan berpuasa, mereka beriringan dengan motor dari depok hingga puncak, duitnya dari patungan. Bayangkan, sekolah tidak memberi ijin, akan tetapi lebih dari 60 murid membelot dan tetap melakukan acara itu.
Sekolah memperlakukan warung BN seperti polisi memperlakukan rumah judi. Bahkan para guru tidak segan menyita karambol yg sedang dimainkan muridnya ketika entah membolos atau bermain sesudah pulang sekolah. Murid di BN seringkali di razia dan kalang kabut seperti trantib merazia pedagang kaki lima. Saya tidak pernah bertanya dan segan pula bertanya, mengapa sekolah tidak mengajak kolaborasi warung yg “menyenangkan’ murid bengal itu agar lebih mudah melakukan pendidikan. Aku tidak bertanya karena aku sagat mahfum bahwa guru sekolah di negeri ini memang tidak pernah dididik untuk memperlakukan murid dan komunitas seperti BN dengan cara yang sesuai kaidah pendidikan, meskipun bisa jadi mereka pernah menerima pelajaran itu saat kuliah S1. Guru juga sangat jarang bertanya kepada murinya atau merenung, mengapa ada murid murid yg tidak menyukai cara dia memberi pelajaran.
Aku juga tidak geram atau menyesal dengan perlakuan guru di SMAN itu atas anakku, karena sejak awal pendekatan kami dengan sekolah dalam mendidik sudah agak berbeda, kami sangat menekankan kemandirian, kemerdekaan bersikap dan keberagaman, sementara sekolah lebih mengutamakan pendekatan seragam, polisionil (hukuman) dan ketergantungan kepada semua aturan yang dibuat agar membentuk murid menjadi patuh. Sikap saya (istri saya masih belum bisa ikhlas dan dia menganggap, bukankah si maman belum memperoleh SP-1, masih panjang ke SP-3 dan tentu masih berhak dan bukankah dia sudah mulai berubah dst…) agak mengejutkan kedua guru itu dan membuat mereka terlihat merasa berdosa, karena “gagal” mendidik si maman. Apalagi sebagai walikelas dan guru BP, mereka sudah pasti mendapat tekanan dari guru mata pelajaran tentang kelakuan si “bengal” itu.
Sambil menyetir saat pulang ke rumah, aku merenung, mendidik anak itu ternyata sungguh sebuah ujian yg berat, karena masa depan mereka bukanlah masa depan kita dan tantangan kehidupan yg mereka hadapi tentu tidaklah sama dengan kita dan aku bersyukur, untunglah si maman hanya “bengal” dan melakukan pembelotan dan perlawanan kepada kewajiban masuk kelas dan ikut ulangan, bukan akhlaknya yg buruk dan akupun bergumam “ternyata harus aku sendiri yg mendidik anak ini…” Ternyata Tuhan tidak mengijinkan aku hanya ngomong doang urusan pendidikan di sekolah, tetapi memaksa aku untuk mendidik langsung anakku.
“Aku akan ngajari dia matematika dan sedikit akuntansi… kamu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia ya,…” itu yg kusampaikan kepada istriku dan dia terpaksa setuju tanpa mengangguk, ya gimana lagi, tentu harus setuju hehehe tak ada guru yg sanggup mengajari si maman.
Jakarta, 19 Okt 2009
email: nanang60@yahoo.com
http://ahmadrizali.com
Related posts:
- KETIKA ANAKKU TIDAK NAIK KELAS (3) Kemarin persanaanku sama seperti 31 Tahun yang lalu, ketika membaca...
- Ketika anakku tidak naik kelas Anakku, sejak balita tidak pernah diam, bahkan saat tidur tidak...
- Ketika Anakku Tidak Naik Kekas (4) KATNK (4): akhirnya lulus juga Dengan mata masih setengah terpejam...
- Ketika Itu, Aku Begitu Mencintai Indonesia Tuhan memberiku karunia dengan keleluasaan waktu dan sepasang kaki yang...
- Taman Siswa (Tamsis) Yg Sekarat Gedung tua bercat baru itu berdiri diantara hiruk pikuk jalan...