Dengan karcis ancol, dunia fantasi (dufan) dan gelanggang samudra gratis dari kantor tempatnya bekerja, sesudah mendapatkan penginapan gratis di hotel terbaik di arena hiburan itu, tuan gaffar dengan gumbira mengajak istri dan dua anaknya yg remaja berkunjung ke dunia fantasi. “Hidung monyet dufan (maksudnya logo dufan) itu lebih panjang dari hidung babah ya,…” itu ujar si bungsu yg kalo nylethuk sangat orsinil dan lucu, itu juga cara dia mengejek hidung bapaknya yang rada pesek.
Tuan gaffar agar malas sebetulnya pergi ketempat hiburan seperti ini, selain fantasinya tidak mampu melebihi fantasi ketika dia masih muda dan berkunjung ke berbagai daerah di pelosok Indonesia dan fantasi keindahan alam bawah tanah (gua kapur), semalam dia juga kurang nyenyak tidur di kamar ber AC. Dia memang agak kampungan, ketika banyak orang tidak bisa tidur tanpa AC, tuan gaffar sebaliknya, tidak nyenyak tidur jika pake AC, bangun tidur badan nggreges dan lubang hidung jadi kering. Oleh sebab itu, meski ketika bertugas keluarkota dia berkesempatan tidur di hotel berbintang 4 hingga 5, tetap saja, ketika pulang ke rumah harus membayar “kekurangan” tidur di kasurnya yg bau asam iler anaknya dan pernya sudah mulai tidak lurus lagi ketika diselonjori badan.
Dengan terseok seok di tengah udara panas dan dengan menggukung celana panjangnya, tuan gaffar memasuki gerbang dunia fantasi yang ternyata bak taman sriwedari dalam cerita wayang itu, indah sekali. Karcis di serahkan dan tangan dicap, entah kenapa harus dicap seperti saat coblosan pemiilihan wakil rakyat saja. Tuan gaffar kagum, disepanjang jalan menuju berbagai permainan yang konon menggelorakan adrenalin itu, disemprot dengan air yang turun seperti gerimis paling halus dan disemprot dengan kipas angin besar. Pintar sekali, terasa lebih sejuk dalam udara panas hawa pinggir laut saat enjelang musim hujan ini, sata itu udara memang sangat panas, dibawah pepohonan penuh dengan pengunjung meneduh.
baru kali ini, sejak saat mahasiswa mengantar kakaknya ke jakarta fair, tuan gafar masuk lagi ke dalam kerumunan manusia yg ribuan jumlahnya, sambil puyeng dia berfikir “dari mana saja manusia ini, hingga memacetkan parkir dengan kendaraan pribadi dan bus bus besar. Meskipun harus membayar uang masuk ancol sebesar 13.000 dan masuk Dufan sebesar 120.000, tetap saja mereka berjubel, beli karcispun berebut dan masuk ketepat hiburan mengantri”
Alamak,… ternyat semua tempat fantasi tadi, mulai dari dremullen (roda superbesar seperti odong odong di kampung), jetcoaster dan tempat duduk yang di pontang pantingkan, termasuk sesuatu yang sudah jamak, perahu berbentuk angsa, dipenuhi manusia. Mereka ngantri seperti ular, bahkan info dari temannya, ada yg ngantri hingga 2 jam baru dapat bagian, yang paling cepat 30 menit. Apa yang dicari manusia ini, pikir tuan gaffar. Sebetulnya, mereka normal saja, tuan gaffar saja yang memang rada jadul, masa kecilnya memang gak pernah tau yang beginian, mainya di kali diantara sawah dengan gedebog pisang.
Anak tuan gaffar sama noraknya, tidak sabaran untuk fight berebut kursi menikmati fantasi itu. ketika mereka melihat antrian begitu panjang, mereka menyerah dan mengajak pulang saja sambil menukar makanan gratis (pula) di konter makanan Jepang. Alamak,… ini konter ngantri pula !! Ketika 15 menit mengantri tidak juga maju2, tuan gaffar menyerah dan mengajak keluarganya pulang saja “kita makan di jalan pulang saja” di kepalanya terbayang, ratusan warteg dan restoran padang yang tidak perlu mengantri. Untunglah, ternyata perusahaan tempat tuan gaffar bekerja cukup disegani, antrian bisa lewat jalur khusus. Diperoleh 4 kardus makanan jepang rasa indonesia, tuan gaffar tdk terlalu bernafsu karena ada saus yang putih putih itu, sama seperti makanan di hotel yang kurang berani bumbu.
Istri tuan gaffar bercerita, dia pagi tadi heran melihat petinggi kantor dimana suaminya bekerja begitu kemaruk mengambil makanan sarapan di piringnya dan piring keluarganya, sosis, daging, nasi goreng, omelet dlsb dan ternyata lebih dari setengah dari makanan yang diambil itu tidak dihabiskan, sementara 4 piring sebelahnya licin tandas “Apa mereka tidak pernah terpikir bahwa banyak orang yang tidak bisa makan ya,… mereka membuang makanan seenaknya…”. Tuan gaffar cuma tersenyum kecut, karena dia juga berfikir, ngapain orang pada antri pada saat panas terik begini hanya untuk duduk di alat yang konon bisa melampaui mimpi “mereka itu mencari hiburan atau menyiksa diri…”, demikian tuan gaffar berguman, sambil melewati gerbang keluar Dufan yang masih sepi.
Jakarta 15 Nop 2009
email: nanang60@yahoo.com
http://ahmadrizali.com
No related posts.